Your Ad Here

MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG





MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG 081916384162  
   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

MOCH SATRIO WELANG

Internet Sehat


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, May 23, 2010
Cerpen Pelukis Malam - Bali Post Minggu 23 Mei 2010

Moch Satrio Welang
Pelukis Malam  

Malam ini, udara sungguh tak bersahabat. Kering dan bergerak lambat. Pekat menyekat bilik jantung seorang lelaki yang terduduk di beranda. Tampak murung. Nafasnya memburu tak teratur. Matanya menghisap kesunyian seperti menggugat alam. Sesekali jemarinya bergetar membakar sebatang rokok kretek. Sungguh ingin ia merengkuh sejatinya malam dari sudut hati yang terdalam. 

Wayan Widarsana, lelaki yang tenggelam menggenggam nafas, gemurat di wajahnya seperti berkisah atas keangkuhan zaman.  Yang sekarang tampak hanyalah keletihan panjang atas sekian perjalanan. “Bli, kenapa selalu memandang malam dengan wajah gulana,“ tanya Kadek yang telah berpuluh tahun mengabdi. Wayan Widarsana tak bergeming. Ia hanya menghisap kreteknya dalam - dalam. Menghembuskan. Lalu menatap langit. Seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung jatuh. “ Kadek, kamu selesaikan saja lukisan pesanan, orang Ubud sudah teriak-teriak,” katanya lirih dengan mata menerawang, masih ke langit.

Kadek menurut dan beranjak pergi, menyusun warna di kanvas blacu tipis dan murah, agar produksi bisa beranak pinak. Ia musti mengirit cat. Satu kaleng merah harus bisa melahirkan lima puluh lukisan berukuran tujuh puluh kali sembilan puluh sentimeter. Sekaleng kuning harus bisa menjelma bahan makanan. Hijau harus bisa membeli susu. Susu? Susu untuk siapa? Sudah lama tak ada bayi di rumah ini. Men Lastri yang bertahun – tahun hanya terbaring, mana sanggup hamil dan mengejan melahirkan. Untuk bernafas saja itu suatu keajaiban, apalagi melahirkan. Lagi, Ia melirik majikannya. Rupanya malam telah merendam Wayan Widarsana dalam impian dan angan – angan. Seonggok bayi mungil yang melayang jatuh dari langit, kemudian bersarang di pangkuannya.

Wayan Widarsana telah lama merindukan bayi, bukan karena istrinya mandul hingga impiannya belum terwujud. Bukan pula karena dia sendiri yang mandul. Ia hanyalah lelaki setengah baya yang kerap menawar malam agar bergegas lepas, bahwa keinginannya adalah impian mahal, yang harus dibeli, bahkan uang tak akan cukup membayarnya.

Sementara beberapa bulan ini orang – orang desa sengit mempergunjingkan Men Lastri yang tak kunjung mempunyai bayi. Mulut mereka sungguh tajam. Ada yang menghembuskan kabar, bahwa Men Lastri kena guna-guna. Pintu peranakannya ditutup agar tak bisa hamil, dan mempunyai keturunan adalah mimpi. Bahkan ada juga yang memberanikan diri untuk menyarankan mereka untuk melakukan adopsi. Untuk sekadar pancingan kata mereka. Namun Men Lastri hanya menjawab dengan senyum. Yang dia inginkan adalah anak dari darah dagingnya sendiri. Penerus keluarga yang kelak bisa dibanggakan meneruskan darah seni keluarga pelukis.

Wayan Widarsana, seorang pengusaha lukis industri, selalu iri kepada siapa saja yang menggendong bayi. Matanya selalu lapar ketika menatap pasangan yang berketurunan. Kabar tentang guna-guna itu pun telah mendarat ditelinganya. Pernah suatu kali Wayan Widarsana mengundang semua balian untuk menggelar ritual menangkal guna guna. Namun sia – sia karena istrinya tak kunjung hamil juga. Guna – guna? Di zaman yang lekas melaju, mengapa masih saja ada orang yang menggunakan cara – cara purba seperti itu. Dia berupaya menepis kabar burung itu dari benaknya. Ia tak dapat membayangkan ada orang yang iri kepadanya. Apa mereka ingin menguasai rumah seni penghasil lukisan instan ini? Ataukah ada orang yang tak suka padanya karena tak sengaja terluka? Cukup lama batinnya bergumul dan kepercayaannya terkumpul bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun juga untuk mencelakai mereka. Men Lastri kerap membantu penduduk desa mengenal aksara. Mengajari orang tua dan anak desa bahwa setiap benda memiliki kata. Tak pernah putus upayanya untuk membangkitkan semangat hidup mereka yang berdiri di jurang keputusasaan. Terhadap tetangga, Men Lastri pun kerap mengirim makanan dan menjenguk mereka apabila sakit. Bulan lalu ia mengumpulkan para ibu untuk mengikuti penyuluhan tentang bahaya penyakit malaria.

Wayan Widarsana menghembuskan rokok kreteknya. Radio kecil di pangkuan memancarkan siaran malam yang lirih terdengar samar penyiar memutar lagu – lagu sendu era delapan puluhan. Malam semakin pudar, namun jiwanya tak kunjung kembali mengembara. Tak sadar dia menembangkan pupuh rare, yang mengalun menyayat telinga siapapun yang tak sengaja menangkapnya. Kadek mengintip dari jendela kamar di mana ia biasa melukis. Sebuah kamar kerja yang ditata menjadi studio lukis, lengkap dengan kanvas di mana – mana dan cat warna warni di sana sini. Dari balik kelambu, Kadek menangkap ada linangan di kelopak mata sang majikan. Ia menangis rupanya. Seorang Wayan Widarsana, pengusaha industri lukisan instan, ternyata mampu menangis.

Kadek yang bertubuh kurus ini tak akan pernah lupa atas kejadian dua puluh tahun lalu. Saat pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. Ayah Men Lastri menggandeng tangan mungilnya setelah seharian menangis di sudut pasar menahan lapar. Kala itu hujan lebat. Ayah Men Lastri memompa semangat Kadek untuk berani memperjuangkan hidup, karena ia laki – laki. Selama dua puluh tahun itu pula Kadek merajut harapan dan impian di antara sapuan lukisan instan untuk pesanan. Mungkin sudah suratan, ayah Men Lastri tak memiliki umur panjang. Beliau mangkat tepat di tahun ke empat Kadek menetap di rumah itu. Kangker paru-paru. Sungguh hatinya terpukul, Kadek melihat jasad Ayah Men Lastri tersungkur di antara kanvas yang tak sempat diselesaikannya. Lukisan abstrak penari Bali yang gemulai dalam guyuran air hujan. Sejak itu Kadek gemar mengeksplorasi penari sebagai sumber inspirasi.

Kadek yang terlahir tanpa Ayah Ibu tak tahu bagaimana berterimakasih kecuali mengabdi pada keluarga pelukis ini. Hingga datang seorang bujang yang meminang Men Lastri menjadi istri.  Adalah Wayan Widarsana yang mulai memberi warna pada nafas keluarga. Sungguh bakat melukis yang luar biasa ada padanya. Kadek teringat sore itu, saat jemari kecilnya berpegang daun pintu, ia saksikan bagaimana mereka memadu cinta bak daun dan embun, berseri di musim semi. Tahun - tahun bahagia berlalu. Semua terpenuhi kecuali hadirnya tangis bayi. Senyum Wayan Widarsana perlahan terkikis habis. Kerap menegak arak dan pulang gontai disertai aroma minyak wangi wanita jalang dini hari. Kadek menyaksikan merahnya cinta yang luruh menjadi hitam. Rumah yang dulu merdu oleh cumbu perlahan menjelma teriakan dan makian. Sejak itu pula Kadek hanya dapat menemukan kelam di wajah Wayan Widarsana yang tenggelam oleh malam. Wajah yang meradang. Dengan rokok kreteknya tebal mengepal. Menguap angkasa. Sungguh apalah arti kehidupan saat kelahiran dan kematian bukan kita yang memiliki.

Seperti malam ini, tak ada kata di antara mereka. Senyap merambat, malam yang merayap. Para wanita bersenandung lirih, warga datang silih berganti. Ada yang membawa makanan, kopi maupun gula. Wayan Widarsana menyambut mereka dengan pesona yang terpaksa. Segera orang desa menggelar ritual di rumahnya. Sementara jasad Men Lastri masih terbujur kaku. Biru.

dimuat di Bali Post Minggu 23 Mei 2010                          

 

Posted at 11:29 am by satrio_welang
Make a comment  

Thursday, March 11, 2010
Kisah Selembar Potret

Udara merintih
tertatih
membelai potretmu
di dinding tua
tempat kita merajut usia
dan menjahit luka

Aku tak akan bersedih
walau tubuhmu bukan lagi
tubuh yang mencangkul ingatan
sekadar menggali kenangan
di hati yang tak merasa hilang

Setetes keringat di dahimu
cukuplah memberi jawaban
aku yang di pelukmu
atau aku yang berjalan
di tiap langkahmu

saat kau injak matahari
saat hujan kau menari

Sehelai rambut terjatuh
di tanah yang luruh
menyaksikan hatiku
yang perlahan membatu

Ibu, apa Tuhan mau mengerti?
saat denyut kita sama
seperti alur kerinduan
menceritakan gelisah
dalam tatapku yang resah

lagi
Di Bibirmu
kutemukan embun
saat hati tersisa api
dan jiwa adalah bara
Di Matamu
ada rahasia
di pucuk ingatan
kematian kita berbeda
sungguh jiwaku terkubur
Di Hatimu
kutemukan

aku.

Kisah potret tua
yang mengembara
dalam resah
rindu 'tuk kembali

bersamamu.

                 Denpasar, Maret 2010




Posted at 10:20 pm by satrio_welang
Make a comment  

Sunday, January 03, 2010
Sejuta Ibu dalam Mangkuk Plastik ( Moch Satrio Welang )

Sejuta Ibu dalam Mangkuk Plastik

 

Aku bermimpi bertemu ibu
Duduk menunggu di ujung kelambu
Bersama ribuan ibu
Mereka berlinang
Bah air mata
Dari kaki hingga leher kami
Jawa tenggelam
Sumatra meradang
Kalimantan hilang

Aku bermimpi Tuhan berbaik hati
Turunkan dolar dan upeti
Juga susu
Minyak tanah
Agar ibu tak sesak
Akan lembar ribuan kumal
Dengan angan di kepala
Tentang bahan makanan
Yang seperti di buku PKK
Empat sehat lima sempurna
Jangankan empat, satu saja susah
Apalagi sempurna

Aku bermimpi
Teruntai senyum di wajahnya yang kuyu
Aku ingin ibu merasakan duduk di sofa
di bagian terdepan
dengan perhiasan di jari manis yang berkilauan

Juga aku ingin Ibu memakai payung
Dan berkaca mata hitam
Disaat orang tergilas panas
Mengorek nasi di tempat sampah
Untuk anak - anak mereka yang banyak
Karena tidak pernah ikut KB
Dan tak kuat membeli kondom

Seandainya aku punya daya
kukirim mutiara di kakinya
lalu aku akan berkata
Ibu,
Melihatmu tersenyum adalah tepi nafasku 

Aku tahu senyummu kan datang
Saat bangsa ini hargai manusia
Juga budaya di atas kalkulator dan celana kolor..

Ibu, aku tak berani pergi ke tempat pelacuran
maka itu aku menjadi pelacur dunia maya
menjual diri, hati dan jantungku,
agar bisa membayar kontrakan

Ibu, kau lihat cucumu yang terlelap ini?
Dalam dekapanku ia mengantuk
Setelah sepanjang siang mengamuk

Dia tidak minum susu
Karena derajatnya tak sampai
Hanya air dicampur darah dan lumut
Itu pun terlalu mewah

Dia tidak posyandu atau rumah sakit
Karena kami diharamkan untuk sakit
Cukup usapi bawang di kepala
Dan nyanyikan dendang jawa

Dia tidak menangis, ibu
Karena tubuhnya kaku
Baru saja terjatuh dari lantai sepuluh
Kata temannya dia gatot kaca
Bertulang besi berotot kawat
Ya, Bu benar – benar kaku
Benar – benar besi
Benar – benar kawat  

Sebentar Bu, biar kububuhi bawang lagi
Aduh, pisauku hilang!

                                Bali, Januari 2010

Posted at 08:10 pm by satrio_welang
Make a comment  

Friday, November 27, 2009
THE SECRET CONVERSATION UNDER THE FRANGIPANI TREES

Women at the crossroads
never  know why her feet  and hands were shackled
faithful old hand holding frangipani tree
burn incense and magic spells
While the moon  
sprinkling the holly water  
a breath of dry
a half-beat

Immediately she recalled that
the pigs hadn’t been fed up
the offering is not finished
can’t work for the village

While the youngest son
Crying for a milk  
This was many years I keep on

If I say, what I get?
ridicule, ostracism, and I ended up
with my children are stubbed by a thousand of sharp eyes

 
I want to let go of my head
slice my skin slowly
and keep hands, feet and brain in the fridge
I'll wait in an hour or two more
My husband came home from cockpit
complete with a sprinkling blood on clothes
either the chicken or the virgin
with the rancid smell of beer on the lips that babbled
sal gasal gasal, biyeng biyeng biyeng
you see my hands and feet?
it's not like it anymore
can I still call it an arm or leg ?
is more like a fish fin or tail
or better if I swim
the depth of the sea that may still want to
support my shoulder
 
I wanted to challenge the gods
to share the bed tonight
 
Let the incense smoke billowing
the spelling mix ears
the green pandan moving away from the night
sun smiled at me
tears
I see besides my son sleep
 
now I'm a butterfly, I am the butterfly
Flying over the lake of light
embraced by eagles and small parakeets
lost in between the pine trees

Posted at 06:53 pm by satrio_welang
Make a comment  

Wednesday, November 11, 2009
Jalan Cahaya ( Moch Satrio Welang )

Di mataku kulihat kuburan. Dulu mungkin tanahnya lembab. Tapi tanah retak dengan hiasan bunga bunga kamboja yang mengering seperti bercerita lain. Hening. Aroma kedukaan yang tak terwakili oleh sajak manapun sepanjang zaman.

Kutemukan diriku menjadi seorang yang puluhan kali lebih tua di cermin. Ini kutukan. Tanganku berdarah. Cermin itu hancur di tanganku. Ingin kutuang saja darah Jawa yang mengalir ditubuhku. Agar habis kuperas tak tersisa setetes pun.
”Nak Jawa, Dagang bakso!” begitu teman-temanku terbahak mengejekku yang bukan keturunan Bali. Aku yang sudah menginjakkan tanah ini ketika berumur 5 tahun, hanya bisa meringis sedih seandainya saja aku memiliki darah Bali mungkin tak akan begini perlakuan yang aku dapatkan. Ya sedikit rasis memang perlakuan yang aku hirup sedari kecil. Apalagi citra kota kelahiranku. Siapa yang tak mengenal kota panas yang berjejal-jejalan, dan sarang para pencopet berkumpul. Siapa yang tak tahu Surabaya?

’Sudah tidak usah kau hiraukan ejekan mereka!’ ujar Anak Agung Ketut Oka Astawa seraya mengambilkan sapu tangan untuk membasuh tanganku yang luka. ”Benar, Nih obat merahnya” imbuh Nengah Pardika seraya membubuhkan beberapa tetes ke lukaku yang menganga. Hari ini kami menonton sepakbola. Dan tanganku robek terjaring pagar pembatas. Mereka adalah sahabatku sedari kecil. Oh, iya. Namaku Ipin. Tak usahlah kusebutkan nama panjangku. Tapi dugaanmu benar bahwa nama itu merupakan penggalan dari kata Arifin.

Berusia 14 tahun memang masa - masa menyenangkan seharusnya. Bermain dengan teman - teman, memanjat pohon dan berenang. Tapi lupakan saja, aku tak seperti itu. Bekas luka di dahiku adalah saksi bagaimana bahwa pisau itu tajam. Waktu itu dititipkan selama enam bulan di sebuah pondokan kecil milik nenek tiriku yang terletak di rumah kompleks para pelacur kota Surabaya. ” Matamu kalau lagi Nggoreng dibuka! Jangan kayak orang buta! Nggoreng gini aja pakek gosong! Kamu pikir gampang hidup di kota ini, hah ? Kamu lihat jutaan orang di luar sana mengorek ngorek sampah untuk makan! ” teriakannya mewarnai hari - hari ku selama enam bulan aku dititipkan padanya. Hidup di kota besar memang tidak gampang. Aku yang masih berumur 11 tahun waktu itu sudah harus bangun pukul empat pagi untuk menggoreng martabak buat dititip ke sekolah – sekolah dan dijual di tempat – tempat yang menggelar maksiat di kala malam. Lulus SD aku di boyong kembali ke bali. Semua ini
lebih mengikuti skenario orang tuaku yang sedang gunjang ganjing perihal rumah tangga. Proses yang biasa terjadi di kehidupan rumah tangga mana pun.

Ayahku seorang preman di masa mudanya. Aku ingat sekali bagaimana aku jarang mendapat belaian tangannya, yang kubayangkan mengusap rambutku di kala aku ingin ingin tidur, saat badai berpesta menghajar rumah kami. Belaian ayah adalah barang mahal bagiku. Aku ingat bagaimana aku merangkak menyapu lantai melewati kaki kaki dewasa untuk memburu nafas dan canda ayahku di saat aku masih berusia dua tahun. Yang kuingat hanya cerita dari paman dan bibi-bibiku tentang perempuan – perempuan simpanannya dan kekalahannya di meja-meja judi.

Dari kecil aku disusui ketiak-ketiak pelacur dan para pemain sabung ayam yang juga meneriakiku seperti aku ini sapi yang tak punya telinga.

***

Tirai hitam itu turun. Kulihat tangan ibu sudah keriput. Tapi matanya yang hitam legam bersaksi akan sejarah panjang kekuatan seorang wanita menghadapi terjangan badai dan cakaran biadab kaum lelaki. Terutama ayahku. Entah dosa apa yang diperbuat leluhur kami, atau setan apa yang merasukinya. Tak pernah sedetik pun kulihat dia berusaha membuat ibu bahagia. Aku jarang melihat senyum tersembul dari bibir ibuku yang selalu terlihat kering. Bukan karena tak ada air, tapi batinnya yang dihancurkan dan jiwanya yang ditumbuk halus oleh merekalah yang membuat itu tampak demikian.

Dari kecil, ibuku hidup dengan makan batu. Bahkan orang tuanya sendiri meninggalkannya kala ia masih sangat kecil. Sebenarnya Ibuku di masa mudanya adalah orang yang begitu periang dan sedikit aktif. Pernah dia memotongi leher ayam-ayam kecil milik mbah buyutnya karena ayam ayam itu begitu berisik. Hihi aku saja terpingkal pingkal mendengar kisah itu. Tak kubayangkan wajah si mbah buyut itu. Pasti kaku mengeras bak beton Jembatan Merah Surabaya.

Masa - masa itu sungguh singkat, sampai ibu menikah dengan ayahku, dan menjadi bulan-bulanan mereka. Mereka yang kumaksud di sini adalah nenek, paman dan bibi-bibiku. Nenekku adalah seorang tiran di keluarga besar ayahku. Setiap perkataannya adalah sabda. Setiap orang di keluarga ini boleh mengambil nafas, atas seizinnya. Dan ibuku adalah sasaran empuk baginya. Karena sebagai menantu, ibu bukanlah orang yang memiliki harta menumpuk, atau jabatan terhormat di pemerintahan maupun di masyarakat.

Nenekku selalu mengamini setiap hasutan bibi - bibi ku yang selalu iri akan usaha dagang yang sedang dirintis ibu. Satu hal dibenak mereka adalah bagaimana melihat ibu jatuh dan berakhir di tempat tidur dengan buraian air mata. Pemandangan yang biasa kulihat di kala kanak-kanak. Aku pendam bara ini. Tenanglah Bu, jika Kau tak membalas, biar aku saja yang melakukannya.

Sampai suatu saat, telingaku dibisiki seseorang. ” Ini enak. Kau akan bisa terbang.” Aku yang tak mengerti apa itu kenikmatan mulai belajar. Sehisap dua hisap. Oh Tuhan, punggungku mulai tumbuh sayap. Dan benar kata mereka, aku benar-benar terbang! Kugapai langit, kutelanjang di antara awan-awan. Hahaha aku lihat manusia - manusia di bawahku bergulat bertubrukan seperti tikus tikus yang mengendus - ngendus mencari jalan keluar yang memang tidak pernah ada. Jalan itu telah lama buntu. Itu karena hati mereka terlalu gelap tersiram aspal yang mereka tuang sendiri. Setan selalu berhasil atas perjanjiannya dengan tuhan. Dulu aku pun melakukan perjanjian dengan burung-burung agar mau meminjami aku sayap untuk terbang. Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi. Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya dengan ini. Jarum, rel dan korek api.

***

Ibu menjengukku di sel E. Hari ini aku tidak ikut olahraga bersama. Biarlah toh sipir-sipir penjara akan bosan memukuli ragaku. Bahkan ini belum apa apa di bandingkan dengan apa yang diterima ibu dalam hidupnya. Orang melemparinya duri dan menyiramnya air panas. Dan anehnya dia selalu saja bisa tersenyum seraya berkata “ Le, hidup itu cuma numpang minum. Biarlah tiap orang membuka jalannya masing-masing. Dan ibu percaya bahwa ini adalah jalan cahaya yang diberkati Tuhan. Kamu harus ingat sembahyang Le, karena hanya itu yang bisa menolongmu kelak di akherat. Bukan siapa-siapa Le, dan ibu hanya punya kamu Le, anak laki laki ibu. Dari doa-doa yang meluncur di bibirmulah maka jalan cahaya yang menjemput ibu akan semakin terang ....”

Aku semakin tak mengerti ibu. Aku bukan termasuk orang yang agamis, walau sebenarnya aku dimasukkan ke sekolah yang berbasis agama. Tapi aku merasa Tuhan tak pernah adil pada kami. Terutama pada ibu. Bertahun-tahun aku memburu dan menuntut pertanggung jawaban dariNya. Atas luka menganga dan irisan tak berhati serta suara jahat mereka yang selalu menaburi luka ibu dengan garam.

Lagi, sel yang angkuh ini dengan dinginnya mencibiriku yang meringkuk lapar. Dua hari aku tak menyentuh nasi. Bagaimana mungkin aku makan sekepal nasi keras dengan potongan tempe kaku anyir dan bulu-bulu tikus bertebaran di mana mana. Aku masih melihat diriku ini berbadan, berkepala, mata, juga tangan dan kaki. Ya aku ini masih manusia. Mengapa mereka tidak memperlakukan aku sebagai manusia? Vonis yang diberikan pengadilan bahwa aku pembunuh berantai atas sekeluarga besar yang bertahun-tahun ku anggap tiran membuatku ramai dibicarakan di semua surat kabar. Remaja penjagal kota Denpasar. Begitu koran-koran menjulukiku.
” Dasar manusia berhati batu! Kenapa kau tega mendorong nenekmu sendiri ke jurang!”
” Dan mengapa kau ikat bibi-bibimu lalu kau siram minyak tanah, dan kau bakar hidup-hidup !? ”
” Apa kau tak dididik agama, hah? Berani sekali kau bubuhi arsenik dalam kopi yang kau sajikan untuk paman – pamanmu, dan mayat mereka kau cacah untuk kau jadikan makanan anjing?”
Suara – suara mereka berputar di kepalaku.
” Ya! Aku memang dilahirkan sebagai mesin pembunuh. Mereka pantas mati atas apa yang mereka rajah di tubuh ibuku selama bertahun-tahun. Oh Tuhan, Ternyata begitu mahal harga seuntai senyuman.”

Tiang gantungan yang kokoh dan sinis itu menjulang di depan mataku. Regu penembak dengan mata tertutup, sudah siap menarik pelatuknya. Aku tahu mereka pun gugup. Pertentangan batin mereka sampai di telingaku. Aku pun menutup mata. ”Kau harus mati! Cepat katakan apa permintaan terakhirmu! Bumi ini harus bersih dari orang – orang seperti mu bangsat! Pasukan siaaaaaaap! Satu ........ Dua ......... Ti..........”

”Maka dari itu Le, Tole, kamu harus rajin sembahyang.. .” Suara ibu membuyarkan lamunan liarku. Astagfirrullah, untung saja tak benar-benar ada regu penembak. Aku merenungi kejadian besar yang menimpaku. Saat aku bersayap, aku terbang, riang dan ringan. Kurasakan samar sekelompok orang datang. Menghadiahiku gelang dingin dan membawaku sampai kemari. Menjadi napi kasus obat-obatan psikotropika tidaklah semewah menjadi pembunuh sekeluarga besar tiran. Huh, andai saja bisa kupatahkan leher mereka. Tentu aku akan sangat berbahagia.

Ibu memegang erat tanganku.” Sekarang kamu disini. Sudah tak ada lagi yang membantu ibu membayar uang kontrakan, Le. Kamu tahu sendirikan bahwa ayahmu sudah lama tenggelam dalam pelukan istri barunya. Kamu kok malah mau niru dia Le, apa kamu gak ingin ngelihat ibumu ini bahagia?

Ibu salah. Justru akulah orang yang sangat ingin melihat dia tersenyum. Aku sampai di sini, di sel dingin ini, karena aku tak tahan melihat bagaimana tubuhnya dicacah habis oleh lidah-lidah tajam mereka.

Ayahku memang tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan wanita. Terutama ibuku. Pernah suatu hari sepulang aku dan ibu dari Surabaya. Rumah dan tetangga sudah gempar! Berita tak sedap sampai juga ke telingaku. Kulihat ibu mengambil secarik kertas yang diselipkan di pintu. Dari sana bisa kubaca dengan jelas pesan dari seorang sahabatnya. Suamimu kawin lagi. Dan parahnya lagi dengan pembantumu sendiri, Komang!

Pembantuku bernama Komang, wanita muda yang membantu ayah dan ibuku berjualan di tempat sabung ayam. Berjualan tahu dan tempe. Diantara hiruk pikuk para penjudi yang berteriak teriak mengacungkan uang - uang haram mereka, kami mengadu nasib. Berjualan penganan buat mereka di saat jeda pertandingan. Ayam-ayam itu selalu menggerutu di telingaku. Seperti mengutuki nasib mereka yang sungguh sial terlahir menjadi mesin pengeruk uang para preman. Kini setelah resmi aku punya ibu tiri, tempat dagangan kami terpisah. Tinggal aku dan ibuku. Wanita itu dan ayahku yang murtad itu menjadi saingan baru kami dalam memunguti sekeping logam para pengunjung dan pemain sabung ayam di arena terkutuk ini. Hari – hari berikutnya sungguh menyita air mata melihat mereka bercengkerama di depan mata. Ingin rasanya kusiramkan minyak panas ini ke muka mereka berdua yang tak lelah menyakiti hati ibu. Bahkan ingin kubuat telinga kami tuli selamanya sehingga tak kudengar cibiran
dan bisik-bisik tetangga yang seolah bersorak sorai atas apa yang menimpa aku dan ibu.

***
Ibu memang wanita berhati karang. Sudah sepantasnya ia mendapat hadiah nobel atas perjuangannya menyelamatkanku, anaknya, dalam mengarungi pusaran nasib yang membebat nadi kami. Seperti saat dia tergeletak lemah, terbaring tak berdaya di pembaringan. Ibuku terserang kanker. Kanker ganas payudara. Sel ganas itu telah menggerogoti tubuhnya yang kini kurus berbalut kulit tipis. Mungkin karena masih bernafas saja, ibuku masih dikategorikan manusia. Tanpa itu aku tak tahu harus menyebut apa untuk menggambarkan hasil dari sayatan dan hisapan sel ganas tersebut.

Kau tahu apa hukuman bagi orang miskin yang berani mengidap penyakit orang kaya? Pertama kalinya kulihat nyawa diperjualbelikan. Ibuku yang terseok seok oleh kerasnya laju zaman ini gigih memperjuangkan nyawa.
” Dokter tolonglah Saya dokter! Selamatkan nyawa saya!”
” Ibu, Negara sudah menanggung sebesar 80 juta rupiah untuk pengobatan ibu selama ini dan ini sudah di luar tanggung jawab kami.”
Kau dengar nyawa ibuku dihargai 80 juta rupiah? Angka yang sangat fantastik dan pastinya banyak sekali. Tapi seandainya aku boleh memilih aku tidak mau uang apapun di dunia ini. Aku hanya ingin ibuku. Permintaanku sangat sederhana. Tapi kenapa begitu mahal ? ” Karena kita orang miskin!” umpatku. Bagi orang miskin, mimpi adalah barang yang begitu mahal. Apalagi di zaman seperti ini, mimpi pun diperjualbelikan. Dan kita orang yang tak punya, tak boleh bahagia walau lewat mimpi sekalipun.

Tekadku sudah bulat. Akan kujual seluruh lintingan yang ada di genggaman ini. Pastilah dompetku akan menggelembung berjejalan uang. Aku pun akan lepas dari kategori miskin. Aku akan menjadi calon jutawan baru di kota ini. Hanya dengan lintingan ini. Ya benda yang sanggup membawaku ke udara. Benda yang akan membawaku bertemu Tuhan. Aku akan berdebat sengit dengannya.

“Jangan menyalahkan Tuhan, Anakku. Beliau memiliki rencana indah sendiri yang tak seorang pun bisa menduganya. Cobalah kau dekati Dia, Peluk Dia hangat-hangat, Anakku. Rasakan indahnya jalan cahaya yang diberikannya. Temukan bahwa tak ada materi apapun di dunia ini yang bisa mengalahkan kekayaanNya, dan tak ada kekuatan apapun di dunia ini, yang bisa melawan ganas nya penyakit terganas selain kekuatannya. Dan atas izinNyalah, kita bisa menikmati apa yang orang-orang sering lupakan. Kita memiliki nafas. Anakku. Ini pemberian dariNya yang tak terhingga. Dari nafas ini kita bisa lakukan begitu banyak hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain.”
”Bagaimana mungkin kita yang miskin ini bisa menolong orang lain, Ibu? Kumohon janganlah mengada ada.”
”Ada anakku. Doa. Yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan doa agar seluruh penghuni dunia saling mencintai, menyayangi dan saling menjaga akan satu-satunya bumi yang kita miliki. Sampai kita temukan jalan cahaya itu, Anakku. Ingatlah selalu pesan ibumu ini.” Bagiku itu seperti pesan terakhir dari ibu.

Kulihat kerumuman itu memutari kuburan. Hujan menyanyikan kidung sendu mengantarkan tanah pekuburan yang baru ditimbun dan dihiasi kamboja segar. Senja merunduk. Langit meneteskan air mata. Aku meraung. Kulihat ibu menangis di liang kuburku. ”Ibu! Maafkan aku ibu, seharusnya kutinggalkan saja benda pemberi sayap di punggungku. Siapa nanti yang akan melindungimu dari mereka manusia jahat yang berserakan di muka bumi ini? Ibu kuatkan dirimu. Aku menunggumu disini!”

***
” Ya, Anak – anak! Itulah tadi cerita Jalan Cahaya karya sastrawan muda Moch Satrio Welang. Setelah ini ujian mengenai cerpen itu akan kita mulai. Kalian sudah siap, bukan? Pertanyaan nanti akan ibu ambil dari unsur intrinsik maupun ekstrinsik dari karya sastra yang menginspirasi banyak orang tersebut. Sebelum itu, Ibu akan mengambil soal ujian dulu di kantor. Kalian duduk tenang saja di sini. Baca – baca lagi selagi ada waktu.”
”Baik, Bu!” jawab mereka yang diajak bicara serempak. Seketika di luar sana langit mendadak gelap. Awan hitam bergulung-gulung. Ketika sang Guru membuka pintu hendak keluar, dia menjerit histeris, ” Aaaaaaaakkkhhh!” Matanya pucat nanar melihat apa yang berada di hadapannya. Seonggok tanah kuburan menganga dengan bunga-bunga kamboja kering. Seorang anak kecil berdiri dengan tatapan nanar berkata,” Dimana Ibuku?”

***

Posted at 02:18 am by satrio_welang
Make a comment  

Wednesday, July 29, 2009
BOCAH HILANG DI SUDUT DESA

Bocah samar berdiri
dirimbun pohon kemuning
bercelana hitam pudar,
perutnya kecil ( seperti lapar)

Bocah, berdiri memegang daun
seperti mimpi
menjadi hijau bagi ulat
menjadi ranum bagi umat

Bocah kecil, bertangan kecil 
menunggu tetesan hujan
selaksa langit malas menyapa
gerhana bulan ?
bukan,
sandi kala..

Bocah berdiri di rimbunnya
bocah menanti
peluk ibukah
atau bahu ayah
seperti air yang pecah
dari bejana di sudut desa

Bocah menanti
di sudut desa

Orang lalu lalang
lewati dirinya
dipeluknya waktu
Itik mendewasa
Daun bawang melayu
Dapur mengepul (terkadang)

Bocah kecil menangis,
Lirih ,
Terdengar burung padi
Yang lupa arah semedi

Bocah kecil dan burung padi
Berpelukan
Karena dunia
Sudah tak berbahu
tak berairmata

Posted at 01:50 pm by satrio_welang
Make a comment  

Tuesday, February 24, 2009
Mana Insangmu, Nek?

Mana Insangmu, Nek?

Tak pernah kulihat
Halilintar teramat gagah  
Menyambar genteng rumah
Langit berduka
Mengguyur
Rambut basah Nenek  
Yang terhuyung
Memeluk kendi kosong beras
Tergopoh menuju Cikeas

Terlalu kuat mata melangkah
Air ponari pun tumpah
Pertama setetes
lalu meninggi
dan mendaki

Air sudah selutut
Sebentar lagi menyentuh dada
Bagaimana kami bernafas
Kami bukan duyung
Atau kerapu

Nenek tak punya insang
Juga sirip

Ayo Nek, peras kebayamu
Nanti masuk angin
Semua rumah sudah tertutup
Takkan terbuka
Tanpa harta


Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie
Hanya Poniyem
Yang sehari makan bayam
Karena Nenek bukan ikan
Tak punya insang
Tak punya Bakrie
Cuma genangan ponari
Yang sudah capai leher
Berhari hari

Oh Tuhan!
Tolong lemparkan pelampung!
Sungguh Nenek tak punya insang
Yang ada hanya dompet tua
Dua ribu lusuh
Potret kakek yang menguning
Dan jimat agar Nenek selamat

Kau lihat yang mengapung itu?
Ya, Nenekku

 

                Bali, Februari 2009

Posted at 02:39 am by satrio_welang
Comment (1)  

Sunday, January 25, 2009
Pohon di Hutan Kintamani, Tuhan dan Gaza

Di dalam Avanza
 di antara pohon - pohon raksasa
di hutan Kintamani
aku bertanya pada temanku
 seraya memandang pohon - pohon besar
yang menjulang tinggi
" Siapa ya yang menyirami mereka ini?"
"Tuhanlah" jawab temanku
"Ow bukankah Tuhan sedang sibuk di Gaza" balasku

Lalu kuambil Motorolaku dan mulai mengetik

" Dan datang sepuluh karung lagi jari jari bayi
Kali ini datang dari negeri tandus
di tengah negeri buatan bangsa Gurita
yang melukai hati umat manusia

Yahudi pun menangis
sementara Israel tertawa-tawa
Palestina, dengan batu batu
kau gigiti nafas hidupmu
kau potong tangan kananmu
sebagai menu makan malam
anak anakmu yang meringis
memegangi perut
memimpikan roti maryam
dan gulai kambing

Tumpukan saja semua batu menjulang
dari sungai nil sampai eufrat
biar sibuk mereka mengali gali
ribuan tahun saat Musa dan Bani Israilnya
hidup rukun saling mengasihi
sampai Fir'aun dan Hitler
bermain petasan
Untung kau bukan bayi laki laki
yang hidup di zaman itu

TV berkedip kedip
Pidato Obama
copy paste Tuan Bush
Tetap saja Hamas melansir berita gembira
1500 nyawa ditebus 3000 lahirnya bayi baru
Nyawa kok dikalkulatorin

Aku tatap nanar
Oprah Show
yang konon aktifis kemanusiaan
Gaza berteriak panas
malah ngambil tema
memelihara kecantikan

Hingga Madonna
mencuat lagi dalam super sensasi
jadi target militant untuk dikuliti

Kami kenyang melihat darah
rudal rudal di televisi
yang dilansir Aljazera Arabic

Kenyang melihat
wajah bayi dan otak otak yang berserakan
darah yang menggelinang
mencuat keluar dari layar televisi kami

Kami kenyang
karena kami makan!
makan banyak lengkap
dengan coca cola
yang sudah dilarang
di Malaysia

Bayangkan
berada di bawah langit
saat pospor putih panas
meletus di udara
kulitmu melepuh
dagingmu gosong sempurna
hingga terlihat tulang keringmu
paru parumu pasti sesak
gas beracun
dan detik berikutnya
muncul sayap dipunggungmu
lalu ringan terbang ke awan
takkan ikut intifadah lagi sore nanti
 
PBB tinggal bubar saja
Waw, Bang One siaran di Arab rupanya!
Bagus Bang,
biar berhenti Mesir, Saudi, Qatar panjat pinang
hadiahnya mainan buatan Amerika
Jelas Venezuela gag ikut
Sedang sibuk mengusir dubes dari negeri
yang diberi julukan mayat busuk oleh Ahmadinejad

Jadi pengen ikut waktu Zionis bikin rapat
menunya pasti satu
istana daud
ya itu tadi di sepanjang
Nil dan Eufrat

untung tidak di Kintamani
yang pohonnya menjulang tinggi

Kintamani dingin
Gaza panas

Kami makan
Gaza mimpi makan

Kami matikan TV
lalu main domino lagi

" Shit, Hpku lowbat! "
(black out)

Posted at 10:41 am by satrio_welang
Comments (2)  

Senja itu tiba

Saat senja, kututup buku di pangkuanku
wajahku menua, ringkih dan kuyu
kuberselimut tebal duduk dikursi kayu
memandang jendela
begitu jingga
langit jingga
dan burung burung
kuteringat teman temanku
40 tahun yang lalu
aku rindu...

Posted at 10:05 am by satrio_welang
Make a comment  

Friday, November 28, 2008
Dewa Laut Tertidur Saat Pasar Sedang Ramai

Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang
Harapan dan cinta dipertaruhkan.

Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang?
atau dua ons cumi - cumi dan ikan ?
Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli?
Tempe seharga emas 24 karat
Nafas Ibu yang sekarat

Tetesan amis merembes di jalan becek ciprati kaki
Wajah yang tak kunjung henti memahat pengabdian
Seorang bocah lelaki tertidur di gundukan semen
Berbantal selendang tebal, kumal
menguning, memudar

Perempuan penjual udang menyeka keringat
Malam ini berharap malaikat sudi singgah sebentar
Sekadar melempar receh atau bingkisan
Seperti mimpi
Matanya nanar
Sekejab keranjangnya kosong
         Laris manis tanjung kimpul
        Dagangan habis uang kumpul
Begitu mantra mengepul

Seuntai senyum lepas ke udara
Anakku minum susu juga akhirnya
Malam ini aku akan pulang lebih awal
Kubeli beberapa ekor ikan bawal
Lalu dicocoli sambal

Eh, apa itu?
Sekejap pasar yang gelap menjadi merah
Riuh orang memaki dan mengumpat
Tampak wajah beringas
Panas
Melotot
Ngotot

' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami?
udang ini hancur dan pahit rasanya!
' Juga cumi ini anyir dan berbusa!'
' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'

Umpatan - umpatan kutelan
Oh Gusti pertanda apa ini?
Mereka mengarakku ke laut
Aku terjungkal ke pasir

Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?

Laut yang tenang. Tapi baunya menyengat


Di kejauhan sesuatu berpendar
Terombang ambing lalu menepi

Tergopoh kami berebut
Seonggok Cermin!
Tampak wajah kami menua
Busuk menyengat
Mata kami membusuk
Tangan membusuk
Mulut membusuk
Payudara membusuk
Laut membusuk
Hati membusuk

Kulihat air laut membeku
Hingga hati manusia hanyalah es
Tak kuduga
Langit yang bergemuruh
Melihatku sujud di bawah Hujan batu

Satu hal melintas di benak
Anakku! Beranjak dari lelapnya
Berjualan udang
Cumi - cumi dan ikan
Sementara kepalaku terkubur batu

 

                               Bali, November 2008

Posted at 10:11 pm by satrio_welang
Comment (1)  

Next Page