MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG





MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG 081916384162  
   

<< May 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

MOCH SATRIO WELANG

Internet Sehat


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, April 27, 2017
Keberangkatan

Moch Satrio Welang

KEBERANGKATAN

lihatlah kehidupan
biji padi tertanam
lalu lumpur hujan
mengotori menumbuhkan

menggigilah bunga padma
dalam kabut doa
dalam gelincir embun
dan matahari pulang
ke hening laut

lalu kemana kapal diberangkatkan
membawa perca masa lalu
menderulah terjang,
tusuk langit
dan pecahkan

30 Juni 2016

Posted at 09:03 pm by satrio_welang
Make a comment  

Percakapan Malam

Moch Satrio Welang

PERCAKAPAN MALAM

Bila percakapan diri belum usai, mari menuang anggur dan berbagi helai roti, mungkin saja sang waktu berteka teki, mungkin saja. Kita menggembala hati, menuruni bukit, demi secercah mata air. Kita menggembala hati, dari dermaga ke dermaga untuk melepas kerinduan
           Dan kuciptakan lebih dari satu permaisuri untuk istanaku yang kutebar dimana mana. Dari mercusuar yang berputaran kuharap kau mengerti pesan yang kuselipkan. Kususun kehilangan demi kehilangan, menunggu hari yang dijanjikan dan senja tak menjawab apa apa.
           Telah kurasakan buas laut, sungguh siapa kita, saat gemuruh bergulung melumat keangkuhan tanpa sisa. Cobalah di saat gelap, tatap bintang, kau akan melihatku bergelayut menahan rindu. Pada malam ceritakan semua, kisah-kisah biru kita, jejak jejak sunyi yang merayap merambat menggerogoti hari yang berceceran. Utarakan pada malam kejujuran gerhana, pijar pijar memancar, pijar malu malu, yang tersudut dan terampas haknya.
           Karena cinta adalah sebatang pohon tua yang menanti dan merindu.Karena penantian adalah air mata yang kuhadang agar tak jatuh runtuh di kakimu


Posted at 09:02 pm by satrio_welang
Make a comment  

Peri Kecil Angeline

Moch Satrio Welang

 

PERI KECIL ANGELINE

 

Angeline, seperti namamu

malaikatlah dirimu

maka kepakkan sayap
menarilah di taman langit

dimana cahaya membalutmu
menyapu lukamu
membasuh air matamu

 

karena tangan Tuhan
pasti luas, cukup untuk merangkul ketabahanmu

 

dalam gelap, kau diterangkan
dalam batu-batu, kau diringankan

 

maka membumbunglah

ejek keserakahan mereka
kejahanaman yang tak mampu menyurutkanmu

 

Angeline, jika keadilan manusia tidak ada
maka keadilan Tuhan berkilau �" kilau pedangnya!

 

 

Posted at 09:01 pm by satrio_welang
Make a comment  

PERANG

Moch Satrio Welang

PERANG

inikah aksara hidup, menjelma cintamu
dalam telaga doa yang terurai bayang baying
menyisakan deru perang tubuh renta

cinta dimanakah nafasmu
yang memenjara aku
mengeringkah luka ini
dalam rajah keheningan

maka takdirku bergemuruh perang
yang mengalirkan cahaya benderang


 

Posted at 09:01 pm by satrio_welang
Make a comment  

DI PEKARANGAN KERTHA GOSA

Moch Satrio Welang

DI PEKARANGAN KERTHA GOSA

Ayah pernah merangkulku
dalam perjalanan kota
Berdagang akik
Menggelar tikar

Dari pasar ke pasar
Hingga pelataran ke pelataran
Aku tumbuh di antara
Batu pirus dan bangsing

Di kota yang nyenyak ini
Ada sebuah paviliun raja
Ada garis wajah wayang kemasan
Ada perang-perang babad
Juga keris-keris

Ingatanku menangisi
Sejarah paling panjang
Yang diselipkan pada ulik ukir kayu
Dinding lapuk ini

O, bunga padma di taman kecil
Patung kayu penari cantik
Kakek bungkuk bertopi capil
Betapa aku terjaga
Dalam percakapan tawar menawar
Di gemeletak batu akik

Di pelataran Kertha Gosa
Pernah kutitipkan jejak
Tapak dara
Kuhangatkan mimpi
Kukunyah belai ayah
Sepanca warna kalimaya

Denpasar, 30 Juni 2016

Posted at 09:00 pm by satrio_welang
Make a comment  

PERJALANAN DINGIN

Moch Satrio Welang

PERJALANAN DINGIN

                       - Elvis Parluxtond

 

kutemui kau dalam sajak sederhana
sajak yang dirajut daun waru
di stasiun batu
mungkin kita telaga cahaya
namun warna tak mampu membias
tirai yang mengalun turun 
menatap cadas dasarmu

ini perjalanan dingin dan sunyi

upacara keberangkatan
di jembatan panjang 
menggema di lembah – lembah
ditelan dingin dan ketidakkuasaan

kita tumbuh dalam perang demi perang
mencari rumah dan kepulangan
tubuh kita dirantai
 
menghitung perahu kayu
di lautmu

kita menjadi asing di barisan
tak ada tangan digenggam
tak ada boneka kayu
di langit telanjang
 
instalasimu bulan dan matahari

sementara kami di sini 
di tanah dingin ini
menghitung batu – batu
menanti keberangkatan demi keberangkatan
dalam kereta yang berputaran

 

Posted at 08:29 pm by satrio_welang
Make a comment  

TAHANAN

Tahanan
            - Mo

kita para tahanan terberangus sunyi
dalam rantai yang berdentangan
terselip puji pujian sayup
dari terali tampak bulan begitu pucat
kita mengemis kasih awan dan burung malam
mengharap esok benar ada

dalam sekian pertikaian
kau pun akhirnya mengerti
dalam nafasmu yang memburu
kau pun paham
kita memang kuda hitam
yang memanggul nasib
dalam belukar tak berkesudahan

Posted at 08:29 pm by satrio_welang
Make a comment  

DI TANGKAI MAWAR MANA ?

Moch Satrio Welang 

DI TANGKAI MAWAR MANA ? 

di tangkai mawar mana, di taman mana, kau selipkan pesan untukku. pada setiap zaman dan perubahan, aku tetap disini, di trotoar yang sama, di tikungan yang sama, di detak jantung yang sama 

lalu hingga detik ke berapa lagi kutunggu anggur kau tuangkan. sungguh tak pernah kulupa denting cangkir, desah nafas dan kisah - kisah yang meluncur dari bibirmu yang ranum.. 

oh, pengembara, aku tak pernah rela kau tinggalkan jejak dan bayang - bayang, masa lalu, kini atau nanti, yang selalu kuraba dari rasi bintang di angkasa.. 

 oh, penguasa alam raya, mungkinkah berakhir getir tiap detik sepi, yang tak kuizinkan membuatku jatuh di kebodohan yang sama, menjadikan setiap batu puisi, embun puisi, bulan dan senja puisi, bahkan lumut yang menjalar liar di hatimu yang tak lagi kukenal.. 

oh, cinta, bagaimana kabarmu di atas sana? apa kau baik baik saja? mengapa begitu lekas lepas, semestinya kucuri saja selendangmu, agar kau tak terbang hilang, biar kurangkul, kucium, sampai maut yang mengintip di sela - sela dedaunan datang menghadang.. 

jika ini takdir, maka aku akan menentangnya, jika ini ujian, maka kuselesaikan semuanya, jika ini kau, maka aku tak akan ada, karena kau dan aku dalam satu nafas, kau tarikan maka aku hembusan. 

mungkin aku buta, mencarimu yang tiada kemana-mana, menunggumu yang tiada kemana mana..

Posted at 08:26 pm by satrio_welang
Make a comment  

Thursday, March 13, 2014
Penjelajah

telah kau bisikan padaku, puncak rekah, bertabur matahari. dalam tiap tapak, kau ukir kejahanaman malam. malam-malam yang tak mampu menyembunyikan rahasia. dan saat kehidupan dimulai, kita menjelma awan, memberi teduh mereka yang lebur dan lapar. lalu puncak ‘kan merekah dalam ranum gumammu, dalam ranum gumammu.

tak habis air kau dulang padaku, tak surut gelombang kau bentang. dalam nafas yang kau bagi di sepanjang dermaga hulu, dalam perahu layarmu, kau lempari batu agar aku yang selembar daun dapat sampai, karena riakmu, karena riakmu..

oh, dari rahimmukah terbit bidadari, yang kelak menabur cahaya di sudut malam,di gang – gang hilang, di racauan keluarga kecil terbuang, di semerbak taman, di keanggunan pagi

oh dari rahimmukah, lahir iblis bengis yang memberikan sayapnya, pada merpati renta tak kuasa pulang, diterjang masa lalu, menggelepar, tercabik mimpi-mimpi kering. jatuh di bebatuan kosong, di tanah kelahiran. oh, dari rahimmukah?

dan kau bisikan padaku, “ laksana kapal, maka bentangkan layar, juga hati, agar sampai pada tepian yang dirindu, pada kisah matahari yang dijanjikan, juga kerlip bintang yang didongengkan. bergetarlah jemari dalam dzikir yang menggetarkan, pada langit yang menggelegar, pada kobaran api dan angin yang membentur. karena hatimu semesta, maka layar 'kan berkibar, maka teriakkanlah, 'sampai, sampai..' 

Posted at 01:22 am by satrio_welang
Make a comment  

Perjalanan

Ibu, nafasmu menjelma kupu terbang menembus langit yang tak sanggup kutuju hanya kepak samar yang perlahan hilang kepada yang memberiku matahari dan udara kupanjat doa dari jemari yang panas dan berdebu biar kutidur dalam pelukmu dalam dongeng yang kau dendangkan kisah kisah keberanian dan kejujuran kisah kisah tuhan dan jejaknya menjadikanku kerikil kerdil yang lancang merindu masa lalu dalam pekat malam siapa yang berani menerka matahari esok? jatuhnya harapan, puncak kesepian dan kehilangan yang menusuk tulang sum sum telah kugurat nadiku, mencari detak jantungmu dan kau kutemui di suatu pagi, dalam gigilmu berceloteh tentang matahari tentang mimpi panjang, tentang potongan harapan yang berserakan di maha langit maka berlabuh, dalam ingatan yang kerap terkunci dalam lapuk loteng tua, ohh, biar berkarat otak ini, bersarangnya ular dan kalajengking, tapi di sana kau meringkuk, terpenjara, oh! tak henti kusambung tiap ingatan yang patah, drak drak kretak ! karena loteng telah ambruk subuh tadi, dan kayu-kayu kususun agar malam nanti kehangatan tak lepas, dan kunyalakan lentera di setiap sudut agar tahu hati siapa tersisa, menjadi rumah bagi mereka yang memimpikan nasi panas, tempe goreng, ikan asin, krupuk udang dan tatapan mata hangat tak bisa lagi matahari membakar rindu, atau kenangan apapun tentangmu, di ujung batu batu inikah kau letakkan semua, aku dan kehidupan yang kaubentangkan, dan sekarang hanya kepak merpati yang bergema di telaga, ohbentangkan jalan, terang maka terangkan, tak sampai juga, aku si buta yang meramal nasib, mengaduk - aduk kerikil dan menjejali kepala dengan sembah dan puja puji. tapi, kau tidak datang lagi, malam ini mungkin besok, satu malam lagi, dan malam - malam lain pun berjatuhan yang memenjaraku pada aroma masakanmu dan suara merdumu saat mengaji lalu angin membawaku terdampar di belantara gelombang, yang menyisakan debur pecah dan camar-camar yang bertebangan mencari jalan nasibnya masing – masing maka di sejajaran pohon pinus dan batu batu, kuletakan mimpi – mimpi bersamamu, di antara gumpalan awan di atas sana, telah kupahat jejak menujumu

Posted at 01:04 am by satrio_welang
Make a comment  

Next Page