Di mataku kulihat kuburan.
Dulu mungkin tanahnya lembab. Tapi tanah retak dengan hiasan bunga
bunga kamboja yang mengering seperti bercerita lain. Hening. Aroma
kedukaan yang tak terwakili oleh sajak manapun sepanjang zaman.
Kutemukan
diriku menjadi seorang yang puluhan kali lebih tua di cermin. Ini
kutukan. Tanganku berdarah. Cermin itu hancur di tanganku. Ingin
kutuang saja darah Jawa yang mengalir ditubuhku. Agar habis kuperas tak
tersisa setetes pun. Nak Jawa, Dagang bakso! begitu teman-temanku
terbahak mengejekku yang bukan keturunan Bali. Aku yang sudah
menginjakkan tanah ini ketika berumur 5 tahun, hanya bisa meringis
sedih seandainya saja aku memiliki darah Bali mungkin tak akan begini
perlakuan yang aku dapatkan. Ya sedikit rasis memang perlakuan yang aku
hirup sedari kecil. Apalagi citra kota kelahiranku. Siapa yang tak
mengenal kota panas yang berjejal-jejalan, dan sarang para
pencopet berkumpul. Siapa yang tak tahu Surabaya?
Sudah tidak
usah kau hiraukan ejekan mereka! ujar Anak Agung Ketut Oka Astawa
seraya mengambilkan sapu tangan untuk membasuh tanganku yang luka.
Benar, Nih obat merahnya imbuh Nengah Pardika seraya membubuhkan
beberapa tetes ke lukaku yang menganga. Hari ini kami menonton
sepakbola. Dan tanganku robek terjaring pagar pembatas. Mereka adalah
sahabatku sedari kecil. Oh, iya. Namaku Ipin. Tak usahlah kusebutkan
nama panjangku. Tapi dugaanmu benar bahwa nama itu merupakan penggalan
dari kata Arifin.
Berusia 14 tahun memang masa - masa
menyenangkan seharusnya. Bermain dengan teman - teman, memanjat pohon
dan berenang. Tapi lupakan saja, aku tak seperti itu. Bekas luka di
dahiku adalah saksi bagaimana bahwa pisau itu tajam. Waktu itu
dititipkan selama enam bulan di sebuah pondokan kecil milik nenek
tiriku yang terletak di rumah kompleks para pelacur kota Surabaya.
Matamu kalau
lagi Nggoreng dibuka! Jangan kayak orang buta! Nggoreng gini aja pakek
gosong! Kamu pikir gampang hidup di kota ini, hah ? Kamu lihat jutaan
orang di luar sana mengorek ngorek sampah untuk makan! teriakannya
mewarnai hari - hari ku selama enam bulan aku dititipkan padanya. Hidup
di kota besar memang tidak gampang. Aku yang masih berumur 11 tahun
waktu itu sudah harus bangun pukul empat pagi untuk menggoreng martabak
buat dititip ke sekolah sekolah dan dijual di tempat tempat yang
menggelar maksiat di kala malam. Lulus SD aku di boyong kembali ke
bali. Semua ini lebih
mengikuti skenario orang tuaku yang sedang gunjang ganjing perihal
rumah tangga. Proses yang biasa terjadi di kehidupan rumah tangga mana
pun.
Ayahku seorang preman di masa mudanya. Aku ingat sekali
bagaimana aku jarang mendapat belaian tangannya, yang kubayangkan
mengusap rambutku di kala aku ingin ingin tidur, saat badai berpesta
menghajar rumah kami. Belaian ayah
adalah barang mahal bagiku. Aku ingat bagaimana aku merangkak menyapu
lantai melewati kaki kaki dewasa untuk memburu nafas dan canda ayahku
di saat aku masih berusia dua tahun. Yang kuingat hanya cerita dari
paman dan bibi-bibiku tentang perempuan perempuan simpanannya dan
kekalahannya di meja-meja judi.
Dari
kecil aku disusui ketiak-ketiak pelacur dan para pemain sabung ayam
yang juga meneriakiku seperti aku ini sapi yang tak punya telinga.
***
Tirai
hitam itu turun. Kulihat tangan ibu sudah keriput. Tapi matanya yang
hitam legam bersaksi akan sejarah panjang kekuatan seorang wanita
menghadapi terjangan badai dan cakaran biadab kaum lelaki. Terutama
ayahku. Entah dosa apa yang diperbuat leluhur kami, atau setan apa yang
merasukinya. Tak pernah sedetik pun kulihat dia berusaha membuat ibu
bahagia. Aku jarang melihat senyum tersembul dari bibir ibuku yang
selalu terlihat kering. Bukan karena tak ada air, tapi batinnya yang
dihancurkan dan jiwanya yang ditumbuk halus oleh merekalah yang membuat
itu tampak demikian.
Dari
kecil, ibuku hidup dengan makan batu. Bahkan orang tuanya sendiri
meninggalkannya kala ia masih sangat kecil. Sebenarnya Ibuku di masa
mudanya adalah orang yang begitu periang dan sedikit aktif. Pernah dia
memotongi leher ayam-ayam kecil milik mbah buyutnya karena ayam ayam
itu begitu berisik. Hihi aku saja terpingkal pingkal mendengar kisah
itu. Tak kubayangkan wajah si mbah buyut itu. Pasti kaku mengeras bak
beton Jembatan Merah Surabaya.
Masa - masa itu sungguh singkat,
sampai ibu menikah dengan ayahku, dan menjadi bulan-bulanan mereka.
Mereka yang kumaksud di sini adalah nenek, paman dan bibi-bibiku.
Nenekku adalah seorang tiran di keluarga besar ayahku. Setiap
perkataannya adalah sabda. Setiap orang di keluarga ini boleh mengambil
nafas, atas seizinnya. Dan ibuku adalah sasaran empuk baginya. Karena
sebagai menantu, ibu bukanlah orang
yang memiliki harta menumpuk, atau jabatan terhormat di pemerintahan
maupun di masyarakat.
Nenekku
selalu mengamini setiap hasutan bibi - bibi ku yang selalu iri akan
usaha dagang yang sedang dirintis ibu. Satu hal dibenak mereka adalah
bagaimana melihat ibu jatuh dan berakhir di tempat tidur dengan buraian
air mata. Pemandangan yang biasa kulihat di kala kanak-kanak. Aku
pendam bara ini. Tenanglah Bu, jika Kau tak membalas, biar aku saja
yang melakukannya.
Sampai suatu saat, telingaku dibisiki
seseorang. Ini enak. Kau akan bisa terbang. Aku yang tak mengerti
apa itu kenikmatan mulai belajar. Sehisap dua hisap. Oh Tuhan,
punggungku mulai tumbuh sayap. Dan benar kata mereka, aku benar-benar
terbang! Kugapai langit, kutelanjang di antara awan-awan. Hahaha aku
lihat manusia - manusia di bawahku bergulat bertubrukan seperti tikus
tikus yang mengendus - ngendus mencari jalan keluar yang memang tidak
pernah ada. Jalan itu telah lama
buntu. Itu karena hati mereka terlalu gelap tersiram aspal yang mereka
tuang sendiri. Setan selalu berhasil atas perjanjiannya dengan tuhan.
Dulu aku pun melakukan perjanjian dengan burung-burung agar mau
meminjami aku sayap untuk terbang. Tapi sekarang sudah tidak perlu
lagi. Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya dengan ini. Jarum, rel dan
korek api.
***
Ibu
menjengukku di sel E. Hari ini aku tidak ikut olahraga bersama. Biarlah
toh sipir-sipir penjara akan bosan memukuli ragaku. Bahkan ini belum
apa apa di bandingkan dengan apa yang diterima ibu dalam hidupnya.
Orang melemparinya duri dan menyiramnya air panas. Dan anehnya dia
selalu saja bisa tersenyum seraya berkata Le, hidup itu cuma numpang
minum. Biarlah tiap orang membuka jalannya masing-masing. Dan ibu
percaya bahwa ini adalah jalan cahaya yang diberkati Tuhan. Kamu harus
ingat sembahyang Le, karena hanya itu yang bisa menolongmu kelak di
akherat. Bukan siapa-siapa Le, dan ibu
hanya punya kamu Le, anak laki laki ibu. Dari doa-doa yang meluncur di
bibirmulah maka jalan cahaya yang menjemput ibu akan semakin terang
....
Aku
semakin tak mengerti ibu. Aku bukan termasuk orang yang agamis, walau
sebenarnya aku dimasukkan ke sekolah yang berbasis agama. Tapi aku
merasa Tuhan tak pernah adil pada kami. Terutama pada ibu.
Bertahun-tahun aku memburu dan menuntut pertanggung jawaban dariNya.
Atas luka menganga dan irisan tak berhati serta suara jahat mereka yang
selalu menaburi luka ibu dengan garam.
Lagi, sel yang angkuh
ini dengan dinginnya mencibiriku yang meringkuk lapar. Dua hari aku tak
menyentuh nasi. Bagaimana mungkin aku makan sekepal nasi keras dengan
potongan tempe kaku anyir dan bulu-bulu tikus bertebaran di mana mana.
Aku masih melihat diriku ini berbadan, berkepala, mata, juga tangan dan
kaki. Ya aku ini masih manusia. Mengapa mereka tidak memperlakukan aku
sebagai manusia? Vonis yang diberikan
pengadilan bahwa aku pembunuh berantai atas sekeluarga besar yang
bertahun-tahun ku anggap tiran membuatku ramai dibicarakan di semua
surat kabar. Remaja penjagal kota Denpasar. Begitu koran-koran
menjulukiku. Dasar manusia berhati batu! Kenapa kau tega mendorong nenekmu sendiri ke jurang! Dan mengapa kau ikat bibi-bibimu lalu kau siram minyak tanah, dan kau bakar hidup-hidup !?
Apa kau tak dididik agama, hah? Berani sekali kau bubuhi arsenik dalam
kopi yang kau sajikan untuk paman pamanmu, dan mayat mereka kau cacah
untuk kau jadikan makanan anjing? Suara suara mereka berputar di kepalaku.
Ya! Aku memang dilahirkan sebagai mesin pembunuh. Mereka pantas mati
atas apa yang mereka rajah di tubuh ibuku selama bertahun-tahun. Oh
Tuhan, Ternyata begitu mahal harga seuntai senyuman.
Tiang
gantungan yang kokoh dan sinis itu menjulang di depan mataku. Regu
penembak dengan mata tertutup, sudah siap
menarik pelatuknya. Aku tahu mereka pun gugup. Pertentangan batin
mereka sampai di telingaku. Aku pun menutup mata. Kau harus mati!
Cepat katakan apa permintaan terakhirmu! Bumi ini harus bersih dari
orang orang seperti mu bangsat! Pasukan siaaaaaaap! Satu ........ Dua
......... Ti..........
Maka
dari itu Le, Tole, kamu harus rajin sembahyang.. . Suara ibu
membuyarkan lamunan liarku. Astagfirrullah, untung saja tak benar-benar
ada regu penembak. Aku merenungi kejadian besar yang menimpaku. Saat
aku bersayap, aku terbang, riang dan ringan. Kurasakan samar sekelompok
orang datang. Menghadiahiku gelang dingin dan membawaku sampai kemari.
Menjadi napi kasus obat-obatan psikotropika tidaklah semewah menjadi
pembunuh sekeluarga besar tiran. Huh, andai saja bisa kupatahkan leher
mereka. Tentu aku akan sangat berbahagia.
Ibu memegang erat
tanganku. Sekarang kamu disini. Sudah tak ada lagi yang membantu ibu
membayar uang
kontrakan, Le. Kamu tahu sendirikan bahwa ayahmu sudah lama tenggelam
dalam pelukan istri barunya. Kamu kok malah mau niru dia Le, apa kamu
gak ingin ngelihat ibumu ini bahagia?
Ibu
salah. Justru akulah orang yang sangat ingin melihat dia tersenyum. Aku
sampai di sini, di sel dingin ini, karena aku tak tahan melihat
bagaimana tubuhnya dicacah habis oleh lidah-lidah tajam mereka.
Ayahku
memang tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan wanita. Terutama
ibuku. Pernah suatu hari sepulang aku dan ibu dari Surabaya. Rumah dan
tetangga sudah gempar! Berita tak sedap sampai juga ke telingaku.
Kulihat ibu mengambil secarik kertas yang diselipkan di pintu. Dari
sana bisa kubaca dengan jelas pesan dari seorang sahabatnya. Suamimu
kawin lagi. Dan parahnya lagi dengan pembantumu sendiri, Komang!
Pembantuku
bernama Komang, wanita muda yang membantu ayah dan ibuku berjualan di
tempat sabung ayam. Berjualan tahu dan tempe. Diantara hiruk pikuk
para penjudi yang berteriak teriak mengacungkan uang - uang haram
mereka, kami mengadu nasib. Berjualan penganan buat mereka di saat jeda
pertandingan. Ayam-ayam itu selalu menggerutu di telingaku. Seperti
mengutuki nasib mereka yang sungguh sial terlahir menjadi mesin
pengeruk uang para preman. Kini setelah resmi aku punya ibu tiri,
tempat dagangan kami terpisah. Tinggal aku dan ibuku. Wanita itu dan
ayahku yang murtad itu menjadi saingan baru kami dalam memunguti
sekeping logam para pengunjung dan pemain sabung ayam di arena terkutuk
ini. Hari hari berikutnya sungguh menyita air mata melihat mereka
bercengkerama di depan mata. Ingin rasanya kusiramkan minyak panas ini
ke muka mereka berdua yang tak lelah menyakiti hati ibu. Bahkan ingin
kubuat telinga kami tuli selamanya sehingga tak kudengar cibiran dan bisik-bisik tetangga yang seolah bersorak sorai atas apa yang menimpa aku dan ibu.
*** Ibu
memang wanita berhati karang. Sudah
sepantasnya ia mendapat hadiah nobel atas perjuangannya
menyelamatkanku, anaknya, dalam mengarungi pusaran nasib yang membebat
nadi kami. Seperti saat dia tergeletak lemah, terbaring tak berdaya di
pembaringan. Ibuku terserang kanker. Kanker ganas payudara. Sel ganas
itu telah menggerogoti tubuhnya yang kini kurus berbalut kulit tipis.
Mungkin karena masih bernafas saja, ibuku masih dikategorikan manusia.
Tanpa itu aku tak tahu harus menyebut apa untuk menggambarkan hasil
dari sayatan dan hisapan sel ganas tersebut.
Kau
tahu apa hukuman bagi orang miskin yang berani mengidap penyakit orang
kaya? Pertama kalinya kulihat nyawa diperjualbelikan. Ibuku yang
terseok seok oleh kerasnya laju zaman ini gigih memperjuangkan nyawa. Dokter tolonglah Saya dokter! Selamatkan nyawa saya!
Ibu, Negara sudah menanggung sebesar 80 juta rupiah untuk pengobatan
ibu selama ini dan ini sudah di luar tanggung jawab kami. Kau
dengar nyawa ibuku
dihargai 80 juta rupiah? Angka yang sangat fantastik dan pastinya
banyak sekali. Tapi seandainya aku boleh memilih aku tidak mau uang
apapun di dunia ini. Aku hanya ingin ibuku. Permintaanku sangat
sederhana. Tapi kenapa begitu mahal ? Karena kita orang miskin!
umpatku. Bagi orang miskin, mimpi adalah barang yang begitu mahal.
Apalagi di zaman seperti ini, mimpi pun diperjualbelikan. Dan kita
orang yang tak punya, tak boleh bahagia walau lewat mimpi sekalipun.
Tekadku
sudah bulat. Akan kujual seluruh lintingan yang ada di genggaman ini.
Pastilah dompetku akan menggelembung berjejalan uang. Aku pun akan
lepas dari kategori miskin. Aku akan menjadi calon jutawan baru di kota
ini. Hanya dengan lintingan ini. Ya benda yang sanggup membawaku ke
udara. Benda yang akan membawaku bertemu Tuhan. Aku akan berdebat
sengit dengannya.
Jangan menyalahkan Tuhan, Anakku. Beliau
memiliki rencana indah sendiri yang tak seorang pun bisa
menduganya. Cobalah kau dekati Dia, Peluk Dia hangat-hangat, Anakku.
Rasakan indahnya jalan cahaya yang diberikannya. Temukan bahwa tak ada
materi apapun di dunia ini yang bisa mengalahkan kekayaanNya, dan tak
ada kekuatan apapun di dunia ini, yang bisa melawan ganas nya penyakit
terganas selain kekuatannya. Dan atas izinNyalah, kita bisa menikmati
apa yang orang-orang sering lupakan. Kita memiliki nafas. Anakku. Ini
pemberian dariNya yang tak terhingga. Dari nafas ini kita bisa lakukan
begitu banyak hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana mungkin kita yang miskin ini bisa menolong orang lain, Ibu? Kumohon janganlah mengada ada. Ada
anakku. Doa. Yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan doa agar seluruh
penghuni dunia saling mencintai, menyayangi dan saling menjaga akan
satu-satunya bumi yang kita miliki. Sampai kita temukan jalan cahaya
itu, Anakku. Ingatlah selalu pesan ibumu ini. Bagiku itu seperti pesan
terakhir dari
ibu.
Kulihat kerumuman itu memutari kuburan. Hujan
menyanyikan kidung sendu mengantarkan tanah pekuburan yang baru
ditimbun dan dihiasi kamboja segar. Senja merunduk. Langit meneteskan
air mata. Aku meraung. Kulihat ibu menangis di liang kuburku. Ibu!
Maafkan aku ibu, seharusnya kutinggalkan saja benda pemberi sayap di
punggungku. Siapa nanti yang akan melindungimu dari mereka manusia
jahat yang berserakan di muka bumi ini? Ibu kuatkan dirimu. Aku
menunggumu disini!
*** Ya, Anak anak! Itulah tadi
cerita Jalan Cahaya karya sastrawan muda Moch Satrio Welang. Setelah
ini ujian mengenai cerpen itu akan kita mulai. Kalian sudah siap,
bukan? Pertanyaan nanti akan ibu ambil dari unsur intrinsik maupun
ekstrinsik dari karya sastra yang menginspirasi banyak orang tersebut.
Sebelum itu, Ibu akan mengambil soal ujian dulu di kantor. Kalian duduk
tenang saja di sini. Baca baca lagi selagi ada waktu. Baik, Bu!
jawab
mereka yang diajak bicara serempak. Seketika di luar sana langit
mendadak gelap. Awan hitam bergulung-gulung. Ketika sang Guru membuka
pintu hendak keluar, dia menjerit histeris, Aaaaaaaakkkhhh! Matanya
pucat nanar melihat apa yang berada di hadapannya. Seonggok tanah
kuburan menganga dengan bunga-bunga kamboja kering. Seorang anak kecil
berdiri dengan tatapan nanar berkata, Dimana Ibuku?
Tak pernah kulihat Halilintar begitu gagah Sambar genteng rumah Langit marah Air mengguyur Rambut basah Nenek Yang terhuyung Memeluk kendi kosong beras Tergopoh menuju Cikeas
Terlalu kuat mata melangkah Air ponari pun tumpah Pertama setetes Lalu meninggi Dan mendaki Sungguh ngeri
Air sudah selutut Sebentar lagi menyentuh dada Lalu bagaimana kami bernafas Kami bukan duyung Atau kerapu
Nenek tak punya insang Dan sirip Karena Nenek bukan ikan
Ayo Nek, peras kebayamu Nanti masuk angin Semua rumah sudah tutup Pintukan terbuka Kalau Nenek berharta
Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie Melainkan Poniyem Tiap hari makan bayem Karena Nenek bukan ikan Tak punya insang Tak punya Bakrie Cuma genangan ponari Yang sudah capai leher Berhari hari
Oh Tuhan! Tolong lemparkan pelampung! Sungguh Nenek tak punya insang Yang ada hanya dompet tua Dua ribu lusuh Potret kakek yang menguning Dan jimat agar Nenek selamat
Di dalam Avanza di antara pohon - pohon raksasa di hutan Kintamani aku bertanya pada temanku seraya memandang pohon - pohon besar yang menjulang tinggi " Siapa ya yang menyirami mereka ini?" "Tuhanlah" jawab temanku "Ow bukankah Tuhan sedang sibuk di Gaza" balasku
Lalu kuambil Motorolaku dan mulai mengetik
" Dan datang sepuluh karung lagi jari jari bayi Kali ini datang dari negeri tandus di tengah negeri buatan bangsa Gurita yang melukai hati umat manusia
Yahudi pun menangis sementara Israel tertawa-tawa Palestina, dengan batu batu kau gigiti nafas hidupmu kau potong tangan kananmu sebagai menu makan malam anak anakmu yang meringis memegangi perut memimpikan roti maryam dan gulai kambing
Tumpukan saja semua batu menjulang dari sungai nil sampai eufrat biar sibuk mereka mengali gali ribuan tahun saat Musa dan Bani Israilnya hidup rukun saling mengasihi sampai Fir'aun dan Hitler bermain petasan Untung kau bukan bayi laki laki yang hidup di zaman itu
TV berkedip kedip Pidato Obama copy paste Tuan Bush Tetap saja Hamas melansir berita gembira 1500 nyawa ditebus 3000 lahirnya bayi baru Nyawa kok dikalkulatorin
Aku tatap nanar Oprah Show yang konon aktifis kemanusiaan Gaza berteriak panas malah ngambil tema memelihara kecantikan
Hingga Madonna mencuat lagi dalam super sensasi jadi target militant untuk dikuliti
Kami kenyang melihat darah rudal rudal di televisi yang dilansir Aljazera Arabic
Kenyang melihat wajah bayi dan otak otak yang berserakan darah yang menggelinang mencuat keluar dari layar televisi kami
Kami kenyang karena kami makan! makan banyak lengkap dengan coca cola yang sudah dilarang di Malaysia
Bayangkan berada di bawah langit saat pospor putih panas meletus di udara kulitmu melepuh dagingmu gosong sempurna hingga terlihat tulang keringmu paru parumu pasti sesak gas beracun dan detik berikutnya muncul sayap dipunggungmu lalu ringan terbang ke awan takkan ikut intifadah lagi sore nanti
PBB tinggal bubar saja Waw, Bang One siaran di Arab rupanya! Bagus Bang, biar berhenti Mesir, Saudi, Qatar panjat pinang hadiahnya mainan buatan Amerika Jelas Venezuela gag ikut Sedang sibuk mengusir dubes dari negeri yang diberi julukan mayat busuk oleh Ahmadinejad
Jadi pengen ikut waktu Zionis bikin rapat menunya pasti satu istana daud ya itu tadi di sepanjang Nil dan Eufrat
untung tidak di Kintamani yang pohonnya menjulang tinggi
Saat senja, kututup buku di pangkuanku wajahku menua, ringkih dan kuyu kuberselimut tebal duduk dikursi kayu memandang jendela begitu jingga langit jingga dan burung burung kuteringat teman temanku 40 tahun yang lalu aku rindu...
Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang - keranjang Harapan dan cinta menjadi benda yang dipertaruhkan.
Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang? atau minimal dua ons cumicumi dan ikan ? Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli? Tempe seharga emas 24 karat
Tetesan air amis merembes di jalan becek ciprati kaki. Wajahnya tak kunjung henti memahat pengabdian. Anak laki lakinya tidur di gundukan semen Berbantalkan selendang tebal, kumal Yang sekarang kuning memudar
Perempuan penjual udang menyeka keringat Malam ini berharap malaikat singgah sebentar Sekadar melempar receh atau bingkisan Seperti mimpi Matanya nanar Sekejab keranjangnya kosong Laris manis tanjung kimpul Dagangan habis uang kumpul Begitu mantra saktinya
Seuntai senyum lepas ke udara Anakku akan minum susu juga akhirnya Malam ini aku akan pulang lebih awal Kubeli beberapa ekor ikan bawal Lalu dicocoli sambal
Eh, apa itu? Sekejap pasar yang gelap menjadi merah Riuh orang memaki dan mengumpat Tampak wajah beringas Mendengus Melotot Berteriak
' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami? udang ini hancur dan pahit rasanya! ' Juga cumi ini anyir dan berbusa!' ' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'
Umpatan - umpatan kutelan Oh Gusti pertanda apakah ini? Mereka mengarakku ke laut Aku terjungkal ke pasir
Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?
Laut tampak tenang. Tapi baunya begitu busuk Dari jauh sesuatu berpendar Terombang ambing lalu menepi
Tergopoh kami berebut Cermin! Tampak wajah kami yang menua Busuk menyengat Mata kami membusuk Tangan kami membusuk Mulut kami membusuk Payudara membusuk Laut membusuk Hati membusuk
Kulihat air laut membeku Hingga hati manusia hanyalah es Tak kuduga Langit bergetar Melihatku sujud di bawah guyuran hujan Hujan batu
Satu hal melintas di benakku Anakku! Yang sedang berjualan udang Cumi - cumi dan ikan Sementara kepalaku terkubur batu
Jendela bukalah lenganmu biarkan angin menari di sekujur tubuhku agar kamar yang sempit tak sinis lagi padaku .
Dedaunan merambat genit di dinding kamar menuruti perintah alam atas
keperkasaan matahari. Mereka perkosa jendelaku di antara sarang laba
laba pengutuk zaman
Jendelaku pun hampir terbenam
membenamkan mataku dan semua ingatan akan dunia yang penuh warna seperti biru penguasa samudra
Jendela, biar mataku menembus langit meminta sabda atas tubuhku yang terjerat akar akar entah dari mana.
Jendela apa kau yang membiarkan gagak itu masuk dan membisikkan kabar di telingaku. Bahwa ibu telah dipeluk awan.
Dan sanggupkah kau menahan lempengan doa yang kan kulemparkan kelangit
Siapkah kau tergores dan luka digerus kami yang tak pernah dipercaya langit
Jendela kau hanya tersenyum padaku,
mengingatkanku senyum ibu saat mengelus rambutku
dan berbisik
'bahwa langit kan selalu menungguku '
Mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini? Dan seperti hari hari melelahkanku di Cina Ini abad tujuh belas Kepala kepala menunduk menjilati tanah dan kakiku
Aku Kaisar Jubahku berat dan mahkotaku berrumpai rumpai Buah persik telah lama dihias ribuan dayang tak berselendang Embun pun telah disemai penuhi cangkir perakku
Mata itu yang bersembunyi dibalik tirai Bagai pisau dengan kilatan dan juga desahan begitu menggoda dahagaku dahagamu
Mari kita selesaikan hari ini Karena kehidupan yang lain tak kan pernah ada Putri Putri meregang nyawa Untuk menyelesaikan tariannya
Mata lain Di ujung tangga Menyapaku lembut Tapi dinginnya terasa
Lalu mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini?
Aku pikir diriku hujan Yang tiap tetesnya membasahi bumi, rambut perempuan pasar dan sarang burung parkit di pohon yang selalu beraroma pinus
Aku meluncur dengan sekantong mimpi Bahwa kelak anak anak senja ini akan meliliti malam dan mencakari punggungnya Aku juga bangunkan sri dengan recikrecikku yang membuat nafas terlelap lembut di kala malam
Sejuk Bahkan dingin kusapa tiap jengkal tanah kaisar yang tiap hari tergenang darah pekerja, penjaja gula dan peramu kata.
Kusisir rambutku dan kulihat lekang jalanan Ini kota mati Makanan dan mayat membusuk menjadi panggung tarian lalat lalat metropolis
Kaisar di istana Bersenandung Sendiri Istananya dihisap pasir Mulutnya penuh pasir
Di bukit tinggi menjulang sepi sendiri Pohon pinus. Menungguku Hujan Tak Kunjung datang
Tubuhku terbalut kebaya hitam berbunga bunga emas Cantik Bagai disiram berliter liter cahaya Payudaraku ranum Kebaya ini menekannya padat Sesak Panas Kebayaku terbakar! Terjilatilah setiap rajutan tangan perempuan desa Di pinggir sungai Gandari. Mereka menyulam kebayaku dari biji strawberi dan kenari putih
Di istana Raja tersenyum Memuji cermin Menyanjung senja dan bulir bulir hujan Beliau sangat cantik Memakai kebayaku