Cerpen Pelukis Malam - Bali Post Minggu 23 Mei 2010
Moch Satrio Welang Pelukis Malam
Malam ini, udara sungguh tak
bersahabat. Kering dan bergerak lambat. Pekat menyekat bilik jantung seorang
lelaki yang terduduk di beranda. Tampak murung. Nafasnya memburu tak teratur.
Matanya menghisap kesunyian seperti menggugat alam. Sesekali jemarinya bergetar
membakar sebatang rokok kretek. Sungguh ingin ia merengkuh sejatinya malam dari
sudut hati yang terdalam.
Wayan Widarsana, lelaki yang
tenggelam menggenggam nafas, gemurat di wajahnya seperti berkisah atas keangkuhan
zaman.Yang sekarang tampak hanyalah
keletihan panjang atas sekian perjalanan. Bli, kenapa selalu memandang malam
dengan wajah gulana, tanya Kadek yang telah berpuluh tahun mengabdi. Wayan
Widarsana tak bergeming. Ia hanya menghisap kreteknya dalam - dalam.
Menghembuskan. Lalu menatap langit. Seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung
jatuh. Kadek, kamu selesaikan saja lukisan pesanan, orang Ubud sudah teriak-teriak,
katanya lirih dengan mata menerawang, masih ke langit.
Kadek menurut dan beranjak pergi,
menyusun warna di kanvas blacu tipis dan murah, agar produksi bisa beranak
pinak. Ia musti mengirit cat. Satu kaleng merah harus bisa melahirkan lima
puluh lukisan berukuran tujuh puluh kali sembilan puluh sentimeter. Sekaleng kuning
harus bisa menjelma bahan makanan. Hijau harus bisa membeli susu. Susu? Susu
untuk siapa? Sudah lama tak ada bayi di rumah ini. Men Lastri yang bertahun
tahun hanya terbaring, mana sanggup hamil dan mengejan melahirkan. Untuk
bernafas saja itu suatu keajaiban, apalagi melahirkan. Lagi, Ia melirik majikannya.
Rupanya malam telah merendam Wayan Widarsana dalam impian dan angan angan.
Seonggok bayi mungil yang melayang jatuh dari langit, kemudian bersarang di pangkuannya.
Wayan Widarsana telah lama merindukan
bayi, bukan karena istrinya mandul hingga impiannya belum terwujud. Bukan pula
karena dia sendiri yang mandul. Ia hanyalah lelaki setengah baya yang kerap
menawar malam agar bergegas lepas, bahwa keinginannya adalah impian mahal, yang
harus dibeli, bahkan uang tak akan cukup membayarnya.
Sementara beberapa bulan ini orang orang
desa sengit mempergunjingkan Men Lastri yang tak kunjung mempunyai bayi. Mulut
mereka sungguh tajam. Ada yang menghembuskan kabar, bahwa Men Lastri kena
guna-guna. Pintu peranakannya ditutup agar tak bisa hamil, dan mempunyai
keturunan adalah mimpi. Bahkan ada juga yang memberanikan diri untuk
menyarankan mereka untuk melakukan adopsi. Untuk sekadar pancingan kata mereka.
Namun Men Lastri hanya menjawab dengan senyum. Yang dia inginkan adalah anak dari
darah dagingnya sendiri. Penerus keluarga yang kelak bisa dibanggakan
meneruskan darah seni keluarga pelukis.
Wayan Widarsana, seorang pengusaha
lukis industri, selalu iri kepada siapa saja yang menggendong bayi. Matanya
selalu lapar ketika menatap pasangan yang berketurunan. Kabar tentang guna-guna
itu pun telah mendarat ditelinganya. Pernah suatu kali Wayan Widarsana
mengundang semua balian untuk menggelar ritual menangkal guna guna. Namun sia
sia karena istrinya tak kunjung hamil juga. Guna guna? Di zaman yang lekas
melaju, mengapa masih saja ada orang yang menggunakan cara cara purba seperti
itu. Dia berupaya menepis kabar burung itu dari benaknya. Ia tak dapat
membayangkan ada orang yang iri kepadanya. Apa mereka ingin menguasai rumah
seni penghasil lukisan instan ini? Ataukah ada orang yang tak suka padanya
karena tak sengaja terluka? Cukup lama batinnya bergumul dan kepercayaannya terkumpul
bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun juga untuk mencelakai mereka. Men Lastri
kerap membantu penduduk desa mengenal aksara. Mengajari orang tua dan anak desa
bahwa setiap benda memiliki kata. Tak pernah putus upayanya untuk membangkitkan
semangat hidup mereka yang berdiri di jurang keputusasaan. Terhadap tetangga, Men
Lastri pun kerap mengirim makanan dan menjenguk mereka apabila sakit. Bulan
lalu ia mengumpulkan para ibu untuk mengikuti penyuluhan tentang bahaya
penyakit malaria.
Wayan Widarsana menghembuskan rokok
kreteknya. Radio kecil di pangkuan memancarkan siaran malam yang lirih
terdengar samar penyiar memutar lagu lagu sendu era delapan puluhan. Malam
semakin pudar, namun jiwanya tak kunjung kembali mengembara. Tak sadar dia
menembangkan pupuh rare, yang mengalun menyayat telinga siapapun yang tak
sengaja menangkapnya. Kadek mengintip dari jendela kamar di mana ia biasa
melukis. Sebuah kamar kerja yang ditata menjadi studio lukis, lengkap dengan
kanvas di mana mana dan cat warna warni di sana sini. Dari balik kelambu, Kadek
menangkap ada linangan di kelopak mata sang majikan. Ia menangis rupanya.
Seorang Wayan Widarsana, pengusaha industri lukisan instan, ternyata mampu menangis.
Kadek yang bertubuh kurus ini tak
akan pernah lupa atas kejadian dua puluh tahun lalu. Saat pertama kali ia
menginjakkan kaki di rumah ini. Ayah Men Lastri menggandeng tangan mungilnya
setelah seharian menangis di sudut pasar menahan lapar. Kala itu hujan lebat. Ayah
Men Lastri memompa semangat Kadek untuk berani memperjuangkan hidup, karena ia
laki laki. Selama dua puluh tahun itu pula Kadek merajut harapan dan impian di
antara sapuan lukisan instan untuk pesanan. Mungkin sudah suratan, ayah Men
Lastri tak memiliki umur panjang. Beliau mangkat tepat di tahun ke empat Kadek
menetap di rumah itu. Kangker paru-paru. Sungguh hatinya terpukul, Kadek
melihat jasad Ayah Men Lastri tersungkur di antara kanvas yang tak sempat
diselesaikannya. Lukisan abstrak penari Bali yang gemulai dalam guyuran air
hujan. Sejak itu Kadek gemar mengeksplorasi penari sebagai sumber inspirasi.
Kadek yang terlahir tanpa Ayah Ibu
tak tahu bagaimana berterimakasih kecuali mengabdi pada keluarga pelukis ini.
Hingga datang seorang bujang yang meminang Men Lastri menjadi istri. Adalah Wayan Widarsana yang mulai memberi
warna pada nafas keluarga. Sungguh bakat melukis yang luar biasa ada padanya. Kadek
teringat sore itu, saat jemari kecilnya berpegang daun pintu, ia saksikan bagaimana
mereka memadu cinta bak daun dan embun, berseri di musim semi. Tahun - tahun bahagia
berlalu. Semua terpenuhi kecuali hadirnya tangis bayi. Senyum Wayan Widarsana
perlahan terkikis habis. Kerap menegak arak dan pulang gontai disertai aroma
minyak wangi wanita jalang dini hari. Kadek menyaksikan merahnya cinta yang
luruh menjadi hitam. Rumah yang dulu merdu oleh cumbu perlahan menjelma
teriakan dan makian. Sejak itu pula Kadek hanya dapat menemukan kelam di wajah
Wayan Widarsana yang tenggelam oleh malam. Wajah yang meradang. Dengan rokok
kreteknya tebal mengepal. Menguap angkasa. Sungguh apalah arti kehidupan saat
kelahiran dan kematian bukan kita yang memiliki.
Seperti malam ini, tak ada kata di
antara mereka. Senyap merambat, malam yang merayap. Para wanita bersenandung
lirih, warga datang silih berganti. Ada
yang membawa makanan, kopi maupun gula. Wayan Widarsana menyambut mereka dengan
pesona yang terpaksa. Segera orang desa menggelar ritual di rumahnya. Sementara
jasad Men Lastri masih terbujur kaku. Biru.
Udara merintih tertatih membelai potretmu di dinding tua tempat kita merajut usia dan menjahit luka
Aku tak akan bersedih walau tubuhmu bukan lagi tubuh yang mencangkul ingatan sekadar menggali kenangan di hati yang tak merasa hilang
Setetes keringat di dahimu cukuplah memberi jawaban aku yang di pelukmu atau aku yang berjalan di tiap langkahmu
saat kau injak matahari saat hujan kau menari
Sehelai rambut terjatuh di tanah yang luruh menyaksikan hatiku yang perlahan membatu
Ibu, apa Tuhan mau mengerti? saat denyut kita sama seperti alur kerinduan menceritakan gelisah dalam tatapku yang resah
lagi Di Bibirmu kutemukan embun saat hati tersisa api dan jiwa adalah bara Di Matamu ada rahasia di pucuk ingatan kematian kita berbeda sungguh jiwaku terkubur Di Hatimu kutemukan
aku.
Kisah potret tua yang mengembara dalam resah rindu 'tuk kembali
Sejuta Ibu dalam Mangkuk Plastik ( Moch Satrio Welang )
Sejuta Ibu dalam Mangkuk Plastik
Aku bermimpi bertemu ibu
Duduk menunggu di ujung kelambu
Bersama ribuan ibu
Mereka berlinang
Bah air mata
Dari kaki hingga leher kami
Jawa tenggelam
Sumatra meradang
Kalimantan hilang
Aku bermimpi Tuhan berbaik hati
Turunkan dolar dan upeti
Juga susu
Minyak tanah
Agar ibu tak sesak
Akan lembar ribuan kumal
Dengan angan di kepala
Tentang bahan makanan
Yang seperti di buku PKK
Empat sehat lima sempurna
Jangankan empat, satu saja susah
Apalagi sempurna
Aku bermimpi
Teruntai senyum di wajahnya yang kuyu
Aku ingin ibu merasakan duduk di sofa
di bagian terdepan
dengan perhiasan di jari manis yang berkilauan
Juga aku ingin Ibu memakai payung
Dan berkaca mata hitam
Disaat orang tergilas panas
Mengorek nasi di tempat sampah
Untuk anak - anak mereka yang banyak
Karena tidak pernah ikut KB
Dan tak kuat membeli kondom
Seandainya aku punya daya
kukirim mutiara di kakinya
lalu aku akan berkata
Ibu,
Melihatmu tersenyum adalah tepi nafasku
Aku tahu senyummu kan datang
Saat bangsa ini hargai manusia
Juga budaya di atas kalkulator dan celana kolor..
Ibu, aku tak berani pergi ke tempat
pelacuran
maka itu aku menjadi pelacur dunia maya
menjual diri, hati dan jantungku,
agar bisa membayar kontrakan
Ibu, kau lihat cucumu yang terlelap
ini?
Dalam dekapanku ia mengantuk
Setelah sepanjang siang mengamuk
Dia tidak minum susu
Karena derajatnya tak sampai
Hanya air dicampur darah dan lumut
Itu pun terlalu mewah
Dia tidak posyandu atau rumah sakit
Karena kami diharamkan untuk sakit
Cukup usapi bawang di kepala
Dan nyanyikan dendang jawa
Dia tidak menangis, ibu
Karena tubuhnya kaku
Baru saja terjatuh dari lantai sepuluh
Kata temannya dia gatot kaca
Bertulang besi berotot kawat
Ya, Bu benar benar kaku
Benar benar besi
Benar benar kawat
Sebentar Bu, biar kububuhi bawang lagi
Aduh, pisauku hilang!
THE SECRET CONVERSATION UNDER THE FRANGIPANI TREES
Women at the crossroads never know why her feet and hands were shackled faithful old hand holding
frangipani tree burn incense and magic spells While the moon sprinkling the holly water a breath of dry a half-beat
Immediately
she recalled that the pigs hadnt been fed up the offering is not finished cant work for the village
While the
youngest son
Crying for a milk
This was many years I keep on If I say, what I get? ridicule, ostracism, and I ended
up
with my children are stubbed by a thousand of sharp eyes I want to let go of my head slice my skin slowly and keep hands, feet and brain
in the fridge I'll wait in an hour or two more
My husband came home from cockpit
complete with a sprinkling blood
on clothes either the chicken or the virgin
with the rancid smell of beer on
the lips that babbled sal gasal gasal, biyeng biyeng
biyeng you see my hands and feet? it's not like it anymore can I still call it an arm or
leg ? is more like a fish fin or tail or better if I swim the depth of the sea that may
still want to support my shoulder I wanted to challenge the gods to share the bed tonight Let the incense smoke billowing the spelling mix ears the green pandan moving away
from the night sun smiled at me tears I see besides my son sleep now I'm a butterfly, I am the butterfly
Flying over the lake of light embraced by eagles and small parakeets
lost in between the pine trees
Di mataku kulihat kuburan.
Dulu mungkin tanahnya lembab. Tapi tanah retak dengan hiasan bunga
bunga kamboja yang mengering seperti bercerita lain. Hening. Aroma
kedukaan yang tak terwakili oleh sajak manapun sepanjang zaman.
Kutemukan
diriku menjadi seorang yang puluhan kali lebih tua di cermin. Ini
kutukan. Tanganku berdarah. Cermin itu hancur di tanganku. Ingin
kutuang saja darah Jawa yang mengalir ditubuhku. Agar habis kuperas tak
tersisa setetes pun. Nak Jawa, Dagang bakso! begitu teman-temanku
terbahak mengejekku yang bukan keturunan Bali. Aku yang sudah
menginjakkan tanah ini ketika berumur 5 tahun, hanya bisa meringis
sedih seandainya saja aku memiliki darah Bali mungkin tak akan begini
perlakuan yang aku dapatkan. Ya sedikit rasis memang perlakuan yang aku
hirup sedari kecil. Apalagi citra kota kelahiranku. Siapa yang tak
mengenal kota panas yang berjejal-jejalan, dan sarang para
pencopet berkumpul. Siapa yang tak tahu Surabaya?
Sudah tidak
usah kau hiraukan ejekan mereka! ujar Anak Agung Ketut Oka Astawa
seraya mengambilkan sapu tangan untuk membasuh tanganku yang luka.
Benar, Nih obat merahnya imbuh Nengah Pardika seraya membubuhkan
beberapa tetes ke lukaku yang menganga. Hari ini kami menonton
sepakbola. Dan tanganku robek terjaring pagar pembatas. Mereka adalah
sahabatku sedari kecil. Oh, iya. Namaku Ipin. Tak usahlah kusebutkan
nama panjangku. Tapi dugaanmu benar bahwa nama itu merupakan penggalan
dari kata Arifin.
Berusia 14 tahun memang masa - masa
menyenangkan seharusnya. Bermain dengan teman - teman, memanjat pohon
dan berenang. Tapi lupakan saja, aku tak seperti itu. Bekas luka di
dahiku adalah saksi bagaimana bahwa pisau itu tajam. Waktu itu
dititipkan selama enam bulan di sebuah pondokan kecil milik nenek
tiriku yang terletak di rumah kompleks para pelacur kota Surabaya.
Matamu kalau
lagi Nggoreng dibuka! Jangan kayak orang buta! Nggoreng gini aja pakek
gosong! Kamu pikir gampang hidup di kota ini, hah ? Kamu lihat jutaan
orang di luar sana mengorek ngorek sampah untuk makan! teriakannya
mewarnai hari - hari ku selama enam bulan aku dititipkan padanya. Hidup
di kota besar memang tidak gampang. Aku yang masih berumur 11 tahun
waktu itu sudah harus bangun pukul empat pagi untuk menggoreng martabak
buat dititip ke sekolah sekolah dan dijual di tempat tempat yang
menggelar maksiat di kala malam. Lulus SD aku di boyong kembali ke
bali. Semua ini lebih
mengikuti skenario orang tuaku yang sedang gunjang ganjing perihal
rumah tangga. Proses yang biasa terjadi di kehidupan rumah tangga mana
pun.
Ayahku seorang preman di masa mudanya. Aku ingat sekali
bagaimana aku jarang mendapat belaian tangannya, yang kubayangkan
mengusap rambutku di kala aku ingin ingin tidur, saat badai berpesta
menghajar rumah kami. Belaian ayah
adalah barang mahal bagiku. Aku ingat bagaimana aku merangkak menyapu
lantai melewati kaki kaki dewasa untuk memburu nafas dan canda ayahku
di saat aku masih berusia dua tahun. Yang kuingat hanya cerita dari
paman dan bibi-bibiku tentang perempuan perempuan simpanannya dan
kekalahannya di meja-meja judi.
Dari
kecil aku disusui ketiak-ketiak pelacur dan para pemain sabung ayam
yang juga meneriakiku seperti aku ini sapi yang tak punya telinga.
***
Tirai
hitam itu turun. Kulihat tangan ibu sudah keriput. Tapi matanya yang
hitam legam bersaksi akan sejarah panjang kekuatan seorang wanita
menghadapi terjangan badai dan cakaran biadab kaum lelaki. Terutama
ayahku. Entah dosa apa yang diperbuat leluhur kami, atau setan apa yang
merasukinya. Tak pernah sedetik pun kulihat dia berusaha membuat ibu
bahagia. Aku jarang melihat senyum tersembul dari bibir ibuku yang
selalu terlihat kering. Bukan karena tak ada air, tapi batinnya yang
dihancurkan dan jiwanya yang ditumbuk halus oleh merekalah yang membuat
itu tampak demikian.
Dari
kecil, ibuku hidup dengan makan batu. Bahkan orang tuanya sendiri
meninggalkannya kala ia masih sangat kecil. Sebenarnya Ibuku di masa
mudanya adalah orang yang begitu periang dan sedikit aktif. Pernah dia
memotongi leher ayam-ayam kecil milik mbah buyutnya karena ayam ayam
itu begitu berisik. Hihi aku saja terpingkal pingkal mendengar kisah
itu. Tak kubayangkan wajah si mbah buyut itu. Pasti kaku mengeras bak
beton Jembatan Merah Surabaya.
Masa - masa itu sungguh singkat,
sampai ibu menikah dengan ayahku, dan menjadi bulan-bulanan mereka.
Mereka yang kumaksud di sini adalah nenek, paman dan bibi-bibiku.
Nenekku adalah seorang tiran di keluarga besar ayahku. Setiap
perkataannya adalah sabda. Setiap orang di keluarga ini boleh mengambil
nafas, atas seizinnya. Dan ibuku adalah sasaran empuk baginya. Karena
sebagai menantu, ibu bukanlah orang
yang memiliki harta menumpuk, atau jabatan terhormat di pemerintahan
maupun di masyarakat.
Nenekku
selalu mengamini setiap hasutan bibi - bibi ku yang selalu iri akan
usaha dagang yang sedang dirintis ibu. Satu hal dibenak mereka adalah
bagaimana melihat ibu jatuh dan berakhir di tempat tidur dengan buraian
air mata. Pemandangan yang biasa kulihat di kala kanak-kanak. Aku
pendam bara ini. Tenanglah Bu, jika Kau tak membalas, biar aku saja
yang melakukannya.
Sampai suatu saat, telingaku dibisiki
seseorang. Ini enak. Kau akan bisa terbang. Aku yang tak mengerti
apa itu kenikmatan mulai belajar. Sehisap dua hisap. Oh Tuhan,
punggungku mulai tumbuh sayap. Dan benar kata mereka, aku benar-benar
terbang! Kugapai langit, kutelanjang di antara awan-awan. Hahaha aku
lihat manusia - manusia di bawahku bergulat bertubrukan seperti tikus
tikus yang mengendus - ngendus mencari jalan keluar yang memang tidak
pernah ada. Jalan itu telah lama
buntu. Itu karena hati mereka terlalu gelap tersiram aspal yang mereka
tuang sendiri. Setan selalu berhasil atas perjanjiannya dengan tuhan.
Dulu aku pun melakukan perjanjian dengan burung-burung agar mau
meminjami aku sayap untuk terbang. Tapi sekarang sudah tidak perlu
lagi. Aku bisa melakukannya sendiri. Hanya dengan ini. Jarum, rel dan
korek api.
***
Ibu
menjengukku di sel E. Hari ini aku tidak ikut olahraga bersama. Biarlah
toh sipir-sipir penjara akan bosan memukuli ragaku. Bahkan ini belum
apa apa di bandingkan dengan apa yang diterima ibu dalam hidupnya.
Orang melemparinya duri dan menyiramnya air panas. Dan anehnya dia
selalu saja bisa tersenyum seraya berkata Le, hidup itu cuma numpang
minum. Biarlah tiap orang membuka jalannya masing-masing. Dan ibu
percaya bahwa ini adalah jalan cahaya yang diberkati Tuhan. Kamu harus
ingat sembahyang Le, karena hanya itu yang bisa menolongmu kelak di
akherat. Bukan siapa-siapa Le, dan ibu
hanya punya kamu Le, anak laki laki ibu. Dari doa-doa yang meluncur di
bibirmulah maka jalan cahaya yang menjemput ibu akan semakin terang
....
Aku
semakin tak mengerti ibu. Aku bukan termasuk orang yang agamis, walau
sebenarnya aku dimasukkan ke sekolah yang berbasis agama. Tapi aku
merasa Tuhan tak pernah adil pada kami. Terutama pada ibu.
Bertahun-tahun aku memburu dan menuntut pertanggung jawaban dariNya.
Atas luka menganga dan irisan tak berhati serta suara jahat mereka yang
selalu menaburi luka ibu dengan garam.
Lagi, sel yang angkuh
ini dengan dinginnya mencibiriku yang meringkuk lapar. Dua hari aku tak
menyentuh nasi. Bagaimana mungkin aku makan sekepal nasi keras dengan
potongan tempe kaku anyir dan bulu-bulu tikus bertebaran di mana mana.
Aku masih melihat diriku ini berbadan, berkepala, mata, juga tangan dan
kaki. Ya aku ini masih manusia. Mengapa mereka tidak memperlakukan aku
sebagai manusia? Vonis yang diberikan
pengadilan bahwa aku pembunuh berantai atas sekeluarga besar yang
bertahun-tahun ku anggap tiran membuatku ramai dibicarakan di semua
surat kabar. Remaja penjagal kota Denpasar. Begitu koran-koran
menjulukiku. Dasar manusia berhati batu! Kenapa kau tega mendorong nenekmu sendiri ke jurang! Dan mengapa kau ikat bibi-bibimu lalu kau siram minyak tanah, dan kau bakar hidup-hidup !?
Apa kau tak dididik agama, hah? Berani sekali kau bubuhi arsenik dalam
kopi yang kau sajikan untuk paman pamanmu, dan mayat mereka kau cacah
untuk kau jadikan makanan anjing? Suara suara mereka berputar di kepalaku.
Ya! Aku memang dilahirkan sebagai mesin pembunuh. Mereka pantas mati
atas apa yang mereka rajah di tubuh ibuku selama bertahun-tahun. Oh
Tuhan, Ternyata begitu mahal harga seuntai senyuman.
Tiang
gantungan yang kokoh dan sinis itu menjulang di depan mataku. Regu
penembak dengan mata tertutup, sudah siap
menarik pelatuknya. Aku tahu mereka pun gugup. Pertentangan batin
mereka sampai di telingaku. Aku pun menutup mata. Kau harus mati!
Cepat katakan apa permintaan terakhirmu! Bumi ini harus bersih dari
orang orang seperti mu bangsat! Pasukan siaaaaaaap! Satu ........ Dua
......... Ti..........
Maka
dari itu Le, Tole, kamu harus rajin sembahyang.. . Suara ibu
membuyarkan lamunan liarku. Astagfirrullah, untung saja tak benar-benar
ada regu penembak. Aku merenungi kejadian besar yang menimpaku. Saat
aku bersayap, aku terbang, riang dan ringan. Kurasakan samar sekelompok
orang datang. Menghadiahiku gelang dingin dan membawaku sampai kemari.
Menjadi napi kasus obat-obatan psikotropika tidaklah semewah menjadi
pembunuh sekeluarga besar tiran. Huh, andai saja bisa kupatahkan leher
mereka. Tentu aku akan sangat berbahagia.
Ibu memegang erat
tanganku. Sekarang kamu disini. Sudah tak ada lagi yang membantu ibu
membayar uang
kontrakan, Le. Kamu tahu sendirikan bahwa ayahmu sudah lama tenggelam
dalam pelukan istri barunya. Kamu kok malah mau niru dia Le, apa kamu
gak ingin ngelihat ibumu ini bahagia?
Ibu
salah. Justru akulah orang yang sangat ingin melihat dia tersenyum. Aku
sampai di sini, di sel dingin ini, karena aku tak tahan melihat
bagaimana tubuhnya dicacah habis oleh lidah-lidah tajam mereka.
Ayahku
memang tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan wanita. Terutama
ibuku. Pernah suatu hari sepulang aku dan ibu dari Surabaya. Rumah dan
tetangga sudah gempar! Berita tak sedap sampai juga ke telingaku.
Kulihat ibu mengambil secarik kertas yang diselipkan di pintu. Dari
sana bisa kubaca dengan jelas pesan dari seorang sahabatnya. Suamimu
kawin lagi. Dan parahnya lagi dengan pembantumu sendiri, Komang!
Pembantuku
bernama Komang, wanita muda yang membantu ayah dan ibuku berjualan di
tempat sabung ayam. Berjualan tahu dan tempe. Diantara hiruk pikuk
para penjudi yang berteriak teriak mengacungkan uang - uang haram
mereka, kami mengadu nasib. Berjualan penganan buat mereka di saat jeda
pertandingan. Ayam-ayam itu selalu menggerutu di telingaku. Seperti
mengutuki nasib mereka yang sungguh sial terlahir menjadi mesin
pengeruk uang para preman. Kini setelah resmi aku punya ibu tiri,
tempat dagangan kami terpisah. Tinggal aku dan ibuku. Wanita itu dan
ayahku yang murtad itu menjadi saingan baru kami dalam memunguti
sekeping logam para pengunjung dan pemain sabung ayam di arena terkutuk
ini. Hari hari berikutnya sungguh menyita air mata melihat mereka
bercengkerama di depan mata. Ingin rasanya kusiramkan minyak panas ini
ke muka mereka berdua yang tak lelah menyakiti hati ibu. Bahkan ingin
kubuat telinga kami tuli selamanya sehingga tak kudengar cibiran dan bisik-bisik tetangga yang seolah bersorak sorai atas apa yang menimpa aku dan ibu.
*** Ibu
memang wanita berhati karang. Sudah
sepantasnya ia mendapat hadiah nobel atas perjuangannya
menyelamatkanku, anaknya, dalam mengarungi pusaran nasib yang membebat
nadi kami. Seperti saat dia tergeletak lemah, terbaring tak berdaya di
pembaringan. Ibuku terserang kanker. Kanker ganas payudara. Sel ganas
itu telah menggerogoti tubuhnya yang kini kurus berbalut kulit tipis.
Mungkin karena masih bernafas saja, ibuku masih dikategorikan manusia.
Tanpa itu aku tak tahu harus menyebut apa untuk menggambarkan hasil
dari sayatan dan hisapan sel ganas tersebut.
Kau
tahu apa hukuman bagi orang miskin yang berani mengidap penyakit orang
kaya? Pertama kalinya kulihat nyawa diperjualbelikan. Ibuku yang
terseok seok oleh kerasnya laju zaman ini gigih memperjuangkan nyawa. Dokter tolonglah Saya dokter! Selamatkan nyawa saya!
Ibu, Negara sudah menanggung sebesar 80 juta rupiah untuk pengobatan
ibu selama ini dan ini sudah di luar tanggung jawab kami. Kau
dengar nyawa ibuku
dihargai 80 juta rupiah? Angka yang sangat fantastik dan pastinya
banyak sekali. Tapi seandainya aku boleh memilih aku tidak mau uang
apapun di dunia ini. Aku hanya ingin ibuku. Permintaanku sangat
sederhana. Tapi kenapa begitu mahal ? Karena kita orang miskin!
umpatku. Bagi orang miskin, mimpi adalah barang yang begitu mahal.
Apalagi di zaman seperti ini, mimpi pun diperjualbelikan. Dan kita
orang yang tak punya, tak boleh bahagia walau lewat mimpi sekalipun.
Tekadku
sudah bulat. Akan kujual seluruh lintingan yang ada di genggaman ini.
Pastilah dompetku akan menggelembung berjejalan uang. Aku pun akan
lepas dari kategori miskin. Aku akan menjadi calon jutawan baru di kota
ini. Hanya dengan lintingan ini. Ya benda yang sanggup membawaku ke
udara. Benda yang akan membawaku bertemu Tuhan. Aku akan berdebat
sengit dengannya.
Jangan menyalahkan Tuhan, Anakku. Beliau
memiliki rencana indah sendiri yang tak seorang pun bisa
menduganya. Cobalah kau dekati Dia, Peluk Dia hangat-hangat, Anakku.
Rasakan indahnya jalan cahaya yang diberikannya. Temukan bahwa tak ada
materi apapun di dunia ini yang bisa mengalahkan kekayaanNya, dan tak
ada kekuatan apapun di dunia ini, yang bisa melawan ganas nya penyakit
terganas selain kekuatannya. Dan atas izinNyalah, kita bisa menikmati
apa yang orang-orang sering lupakan. Kita memiliki nafas. Anakku. Ini
pemberian dariNya yang tak terhingga. Dari nafas ini kita bisa lakukan
begitu banyak hal yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana mungkin kita yang miskin ini bisa menolong orang lain, Ibu? Kumohon janganlah mengada ada. Ada
anakku. Doa. Yang bisa kita lakukan adalah mengirimkan doa agar seluruh
penghuni dunia saling mencintai, menyayangi dan saling menjaga akan
satu-satunya bumi yang kita miliki. Sampai kita temukan jalan cahaya
itu, Anakku. Ingatlah selalu pesan ibumu ini. Bagiku itu seperti pesan
terakhir dari
ibu.
Kulihat kerumuman itu memutari kuburan. Hujan
menyanyikan kidung sendu mengantarkan tanah pekuburan yang baru
ditimbun dan dihiasi kamboja segar. Senja merunduk. Langit meneteskan
air mata. Aku meraung. Kulihat ibu menangis di liang kuburku. Ibu!
Maafkan aku ibu, seharusnya kutinggalkan saja benda pemberi sayap di
punggungku. Siapa nanti yang akan melindungimu dari mereka manusia
jahat yang berserakan di muka bumi ini? Ibu kuatkan dirimu. Aku
menunggumu disini!
*** Ya, Anak anak! Itulah tadi
cerita Jalan Cahaya karya sastrawan muda Moch Satrio Welang. Setelah
ini ujian mengenai cerpen itu akan kita mulai. Kalian sudah siap,
bukan? Pertanyaan nanti akan ibu ambil dari unsur intrinsik maupun
ekstrinsik dari karya sastra yang menginspirasi banyak orang tersebut.
Sebelum itu, Ibu akan mengambil soal ujian dulu di kantor. Kalian duduk
tenang saja di sini. Baca baca lagi selagi ada waktu. Baik, Bu!
jawab
mereka yang diajak bicara serempak. Seketika di luar sana langit
mendadak gelap. Awan hitam bergulung-gulung. Ketika sang Guru membuka
pintu hendak keluar, dia menjerit histeris, Aaaaaaaakkkhhh! Matanya
pucat nanar melihat apa yang berada di hadapannya. Seonggok tanah
kuburan menganga dengan bunga-bunga kamboja kering. Seorang anak kecil
berdiri dengan tatapan nanar berkata, Dimana Ibuku?
Tak pernah kulihat
Halilintar teramat gagah
Menyambar genteng rumah
Langit berduka
Mengguyur
Rambut basah Nenek
Yang terhuyung
Memeluk kendi kosong beras
Tergopoh menuju Cikeas
Terlalu kuat mata melangkah
Air ponari pun tumpah
Pertama setetes
lalu meninggi
dan mendaki
Air sudah selutut
Sebentar lagi menyentuh dada
Bagaimana kami bernafas
Kami bukan duyung
Atau kerapu
Nenek tak punya insang
Juga sirip
Ayo Nek, peras kebayamu
Nanti masuk angin
Semua rumah sudah tertutup
Takkan terbuka
Tanpa harta
Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie
Hanya Poniyem
Yang sehari makan bayam
Karena Nenek bukan ikan
Tak punya insang
Tak punya Bakrie
Cuma genangan ponari
Yang sudah capai leher
Berhari hari
Oh Tuhan!
Tolong lemparkan pelampung!
Sungguh Nenek tak punya insang
Yang ada hanya dompet tua
Dua ribu lusuh
Potret kakek yang menguning
Dan jimat agar Nenek selamat
Di dalam Avanza di antara pohon - pohon raksasa di hutan Kintamani aku bertanya pada temanku seraya memandang pohon - pohon besar yang menjulang tinggi " Siapa ya yang menyirami mereka ini?" "Tuhanlah" jawab temanku "Ow bukankah Tuhan sedang sibuk di Gaza" balasku
Lalu kuambil Motorolaku dan mulai mengetik
" Dan datang sepuluh karung lagi jari jari bayi Kali ini datang dari negeri tandus di tengah negeri buatan bangsa Gurita yang melukai hati umat manusia
Yahudi pun menangis sementara Israel tertawa-tawa Palestina, dengan batu batu kau gigiti nafas hidupmu kau potong tangan kananmu sebagai menu makan malam anak anakmu yang meringis memegangi perut memimpikan roti maryam dan gulai kambing
Tumpukan saja semua batu menjulang dari sungai nil sampai eufrat biar sibuk mereka mengali gali ribuan tahun saat Musa dan Bani Israilnya hidup rukun saling mengasihi sampai Fir'aun dan Hitler bermain petasan Untung kau bukan bayi laki laki yang hidup di zaman itu
TV berkedip kedip Pidato Obama copy paste Tuan Bush Tetap saja Hamas melansir berita gembira 1500 nyawa ditebus 3000 lahirnya bayi baru Nyawa kok dikalkulatorin
Aku tatap nanar Oprah Show yang konon aktifis kemanusiaan Gaza berteriak panas malah ngambil tema memelihara kecantikan
Hingga Madonna mencuat lagi dalam super sensasi jadi target militant untuk dikuliti
Kami kenyang melihat darah rudal rudal di televisi yang dilansir Aljazera Arabic
Kenyang melihat wajah bayi dan otak otak yang berserakan darah yang menggelinang mencuat keluar dari layar televisi kami
Kami kenyang karena kami makan! makan banyak lengkap dengan coca cola yang sudah dilarang di Malaysia
Bayangkan berada di bawah langit saat pospor putih panas meletus di udara kulitmu melepuh dagingmu gosong sempurna hingga terlihat tulang keringmu paru parumu pasti sesak gas beracun dan detik berikutnya muncul sayap dipunggungmu lalu ringan terbang ke awan takkan ikut intifadah lagi sore nanti
PBB tinggal bubar saja Waw, Bang One siaran di Arab rupanya! Bagus Bang, biar berhenti Mesir, Saudi, Qatar panjat pinang hadiahnya mainan buatan Amerika Jelas Venezuela gag ikut Sedang sibuk mengusir dubes dari negeri yang diberi julukan mayat busuk oleh Ahmadinejad
Jadi pengen ikut waktu Zionis bikin rapat menunya pasti satu istana daud ya itu tadi di sepanjang Nil dan Eufrat
untung tidak di Kintamani yang pohonnya menjulang tinggi
Saat senja, kututup buku di pangkuanku wajahku menua, ringkih dan kuyu kuberselimut tebal duduk dikursi kayu memandang jendela begitu jingga langit jingga dan burung burung kuteringat teman temanku 40 tahun yang lalu aku rindu...
Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang
Harapan dan cinta dipertaruhkan.
Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang?
atau dua ons cumi - cumi dan ikan ?
Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli?
Tempe seharga emas 24 karat
Nafas Ibu yang sekarat
Tetesan amis merembes di jalan becek ciprati kaki
Wajah yang tak kunjung henti memahat pengabdian
Seorang bocah lelaki tertidur di gundukan semen
Berbantal selendang tebal, kumal
menguning, memudar
Perempuan penjual udang menyeka keringat
Malam ini berharap malaikat sudi singgah sebentar
Sekadar melempar receh atau bingkisan
Seperti mimpi
Matanya nanar
Sekejab keranjangnya kosong Laris manis tanjung kimpul Dagangan habis uang kumpul Begitu mantra mengepul
Seuntai senyum lepas ke udara
Anakku minum susu juga akhirnya
Malam ini aku akan pulang lebih awal
Kubeli beberapa ekor ikan bawal
Lalu dicocoli sambal
Eh, apa itu? Sekejap pasar yang gelap menjadi merah
Riuh orang memaki dan mengumpat
Tampak wajah beringas
Panas
Melotot
Ngotot
' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami?
udang ini hancur dan pahit rasanya!
' Juga cumi ini anyir dan berbusa!'
' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'
Umpatan - umpatan kutelan
Oh Gusti pertanda apa ini?
Mereka mengarakku ke laut
Aku terjungkal ke pasir
Oh Gusti kenapa laut begitu sinis
kepadaku?
Laut yang tenang. Tapi baunya menyengat
Di kejauhan sesuatu berpendar
Terombang ambing lalu menepi
Tergopoh kami berebut
Seonggok Cermin!
Tampak wajah kami menua
Busuk menyengat
Mata kami membusuk
Tangan membusuk
Mulut membusuk
Payudara membusuk
Laut membusuk
Hati membusuk
Kulihat air laut membeku
Hingga hati manusia hanyalah es
Tak kuduga
Langit yang bergemuruh
Melihatku sujud di bawah Hujan batu
Satu hal melintas di benak
Anakku! Beranjak dari lelapnya
Berjualan udang
Cumi - cumi dan ikan
Sementara kepalaku terkubur batu