Sunday, November 09, 2008
Hujan Bukan Air yang Jatuh dari Langit
Aku pikir diriku hujan
Yang tiap tetesnya membasahi bumi, rambut perempuan pasar dan sarang burung parkit di pohon yang selalu beraroma pinus
Aku meluncur dengan sekantong mimpi
Bahwa kelak anak anak senja ini akan meliliti malam dan mencakari punggungnya
Aku juga bangunkan sri dengan recikrecikku yang membuat nafas terlelap lembut di kala malam
Sejuk
Bahkan dingin kusapa tiap jengkal tanah kaisar yang tiap hari tergenang darah pekerja, penjaja gula dan peramu kata.
Kusisir rambutku dan kulihat lekang jalanan
Ini kota mati
Makanan dan mayat membusuk menjadi panggung tarian lalat lalat metropolis
Kaisar di istana
Bersenandung
Sendiri
Istananya dihisap pasir
Mulutnya penuh pasir
Di bukit tinggi menjulang sepi sendiri
Pohon pinus.
Menungguku
Hujan
Tak Kunjung datang
Posted at 10:00 am by satrio_welang