Dewa Laut Tertidur Saat Pasar Sedang Ramai
Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang - keranjang
Harapan dan cinta menjadi benda yang dipertaruhkan.
Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang?
atau minimal dua ons cumicumi dan ikan ?
Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli?
Tempe seharga emas 24 karat
Tetesan air amis merembes di jalan becek ciprati kaki.
Wajahnya tak kunjung henti memahat pengabdian.
Anak laki lakinya tidur di gundukan semen
Berbantalkan selendang tebal, kumal
Yang sekarang kuning memudar
Perempuan penjual udang menyeka keringat
Malam ini berharap malaikat singgah sebentar
Sekadar melempar receh atau bingkisan
Seperti mimpi
Matanya nanar
Sekejab keranjangnya kosong
Laris manis tanjung kimpul
Dagangan habis uang kumpul
Begitu mantra saktinya
Seuntai senyum lepas ke udara
Anakku akan minum susu juga akhirnya
Malam ini aku akan pulang lebih awal
Kubeli beberapa ekor ikan bawal
Lalu dicocoli sambal
Eh, apa itu?
Sekejap pasar yang gelap menjadi merah
Riuh orang memaki dan mengumpat
Tampak wajah beringas
Mendengus
Melotot
Berteriak
' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami?
udang ini hancur dan pahit rasanya!
' Juga cumi ini anyir dan berbusa!'
' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'
Umpatan - umpatan kutelan
Oh Gusti pertanda apakah ini?
Mereka mengarakku ke laut
Aku terjungkal ke pasir
Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?
Laut tampak tenang. Tapi baunya begitu busuk
Dari jauh sesuatu berpendar
Terombang ambing lalu menepi
Tergopoh kami berebut
Cermin!
Tampak wajah kami yang menua
Busuk menyengat
Mata kami membusuk
Tangan kami membusuk
Mulut kami membusuk
Payudara membusuk
Laut membusuk
Hati membusuk
Kulihat air laut membeku
Hingga hati manusia hanyalah es
Tak kuduga
Langit bergetar
Melihatku sujud di bawah guyuran hujan
Hujan batu
Satu hal melintas di benakku
Anakku!
Yang sedang berjualan udang
Cumi - cumi dan ikan
Sementara kepalaku terkubur batu