MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG





MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG 081916384162  
   

<< November 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

MOCH SATRIO WELANG

Internet Sehat


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, November 28, 2008
Dewa Laut Tertidur Saat Pasar Sedang Ramai

Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang - keranjang
Harapan dan cinta menjadi benda yang dipertaruhkan.

Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang?
atau minimal dua ons cumicumi dan ikan ?
Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli?
Tempe seharga emas 24 karat

Tetesan air amis merembes di jalan becek ciprati kaki.
Wajahnya tak kunjung henti memahat pengabdian.
Anak laki lakinya tidur di gundukan semen
Berbantalkan selendang tebal, kumal
Yang sekarang kuning memudar

Perempuan penjual udang menyeka keringat
Malam ini berharap malaikat singgah sebentar
Sekadar melempar receh atau bingkisan
Seperti mimpi
Matanya nanar
Sekejab keranjangnya kosong
Laris manis tanjung kimpul
Dagangan habis uang kumpul
Begitu mantra saktinya

Seuntai senyum lepas ke udara
Anakku akan minum susu juga akhirnya
Malam ini aku akan pulang lebih awal
Kubeli beberapa ekor ikan bawal
Lalu dicocoli sambal

Eh, apa itu?
Sekejap pasar yang gelap menjadi merah
Riuh orang memaki dan mengumpat
Tampak wajah beringas
Mendengus
Melotot
Berteriak

' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami?
udang ini hancur dan pahit rasanya!
' Juga cumi ini anyir dan berbusa!'
' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'

Umpatan - umpatan kutelan
Oh Gusti pertanda apakah ini?
Mereka mengarakku ke laut
Aku terjungkal ke pasir

Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?

Laut tampak tenang. Tapi baunya begitu busuk
Dari jauh sesuatu berpendar
Terombang ambing lalu menepi

Tergopoh kami berebut
Cermin!
Tampak wajah kami yang menua
Busuk menyengat
Mata kami membusuk
Tangan kami membusuk
Mulut kami membusuk
Payudara membusuk
Laut membusuk
Hati membusuk

Kulihat air laut membeku
Hingga hati manusia hanyalah es
Tak kuduga
Langit bergetar
Melihatku sujud di bawah guyuran hujan
Hujan batu

Satu hal melintas di benakku
Anakku!
Yang sedang berjualan udang
Cumi - cumi dan ikan
Sementara kepalaku terkubur batu

Posted at 10:11 pm by satrio_welang

langit_septa
December 1, 2008   07:24 PM PST
 
entahlah mas satrio, semuanya begitu cepat, semuanya begitu tak terduga,

tapi takkan kuhenti menatap matahari, meski silaunya membakar diri..

salam ya mas...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry