Tak pernah kulihat
Halilintar begitu gagah
Sambar genteng rumah
Langit marah
Air mengguyur
Rambut basah Nenek
Yang terhuyung
Memeluk kendi kosong beras
Tergopoh menuju Cikeas
Terlalu kuat mata melangkah
Air ponari pun tumpah
Pertama setetes
Lalu meninggi
Dan mendaki
Sungguh ngeri
Air sudah selutut
Sebentar lagi menyentuh dada
Lalu bagaimana kami bernafas
Kami bukan duyung
Atau kerapu
Nenek tak punya insang
Dan sirip
Karena Nenek bukan ikan
Ayo Nek, peras kebayamu
Nanti masuk angin
Semua rumah sudah tutup
Pintukan terbuka
Kalau Nenek berharta
Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie
Melainkan Poniyem
Tiap hari makan bayem
Karena Nenek bukan ikan
Tak punya insang
Tak punya Bakrie
Cuma genangan ponari
Yang sudah capai leher
Berhari hari
Oh Tuhan!
Tolong lemparkan pelampung!
Sungguh Nenek tak punya insang
Yang ada hanya dompet tua
Dua ribu lusuh
Potret kakek yang menguning
Dan jimat agar Nenek selamat
Kau lihat yang mengapung itu?
Ya, Nenekku