Tak pernah kulihat Halilintar begitu gagah Sambar genteng rumah Langit marah Air mengguyur Rambut basah Nenek Yang terhuyung Memeluk kendi kosong beras Tergopoh menuju Cikeas
Terlalu kuat mata melangkah Air ponari pun tumpah Pertama setetes Lalu meninggi Dan mendaki Sungguh ngeri
Air sudah selutut Sebentar lagi menyentuh dada Lalu bagaimana kami bernafas Kami bukan duyung Atau kerapu
Nenek tak punya insang Dan sirip Karena Nenek bukan ikan
Ayo Nek, peras kebayamu Nanti masuk angin Semua rumah sudah tutup Pintukan terbuka Kalau Nenek berharta
Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie Melainkan Poniyem Tiap hari makan bayem Karena Nenek bukan ikan Tak punya insang Tak punya Bakrie Cuma genangan ponari Yang sudah capai leher Berhari hari
Oh Tuhan! Tolong lemparkan pelampung! Sungguh Nenek tak punya insang Yang ada hanya dompet tua Dua ribu lusuh Potret kakek yang menguning Dan jimat agar Nenek selamat
Di dalam Avanza di antara pohon - pohon raksasa di hutan Kintamani aku bertanya pada temanku seraya memandang pohon - pohon besar yang menjulang tinggi " Siapa ya yang menyirami mereka ini?" "Tuhanlah" jawab temanku "Ow bukankah Tuhan sedang sibuk di Gaza" balasku
Lalu kuambil Motorolaku dan mulai mengetik
" Dan datang sepuluh karung lagi jari jari bayi Kali ini datang dari negeri tandus di tengah negeri buatan bangsa Gurita yang melukai hati umat manusia
Yahudi pun menangis sementara Israel tertawa-tawa Palestina, dengan batu batu kau gigiti nafas hidupmu kau potong tangan kananmu sebagai menu makan malam anak anakmu yang meringis memegangi perut memimpikan roti maryam dan gulai kambing
Tumpukan saja semua batu menjulang dari sungai nil sampai eufrat biar sibuk mereka mengali gali ribuan tahun saat Musa dan Bani Israilnya hidup rukun saling mengasihi sampai Fir'aun dan Hitler bermain petasan Untung kau bukan bayi laki laki yang hidup di zaman itu
TV berkedip kedip Pidato Obama copy paste Tuan Bush Tetap saja Hamas melansir berita gembira 1500 nyawa ditebus 3000 lahirnya bayi baru Nyawa kok dikalkulatorin
Aku tatap nanar Oprah Show yang konon aktifis kemanusiaan Gaza berteriak panas malah ngambil tema memelihara kecantikan
Hingga Madonna mencuat lagi dalam super sensasi jadi target militant untuk dikuliti
Kami kenyang melihat darah rudal rudal di televisi yang dilansir Aljazera Arabic
Kenyang melihat wajah bayi dan otak otak yang berserakan darah yang menggelinang mencuat keluar dari layar televisi kami
Kami kenyang karena kami makan! makan banyak lengkap dengan coca cola yang sudah dilarang di Malaysia
Bayangkan berada di bawah langit saat pospor putih panas meletus di udara kulitmu melepuh dagingmu gosong sempurna hingga terlihat tulang keringmu paru parumu pasti sesak gas beracun dan detik berikutnya muncul sayap dipunggungmu lalu ringan terbang ke awan takkan ikut intifadah lagi sore nanti
PBB tinggal bubar saja Waw, Bang One siaran di Arab rupanya! Bagus Bang, biar berhenti Mesir, Saudi, Qatar panjat pinang hadiahnya mainan buatan Amerika Jelas Venezuela gag ikut Sedang sibuk mengusir dubes dari negeri yang diberi julukan mayat busuk oleh Ahmadinejad
Jadi pengen ikut waktu Zionis bikin rapat menunya pasti satu istana daud ya itu tadi di sepanjang Nil dan Eufrat
untung tidak di Kintamani yang pohonnya menjulang tinggi
Saat senja, kututup buku di pangkuanku wajahku menua, ringkih dan kuyu kuberselimut tebal duduk dikursi kayu memandang jendela begitu jingga langit jingga dan burung burung kuteringat teman temanku 40 tahun yang lalu aku rindu...
Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang - keranjang Harapan dan cinta menjadi benda yang dipertaruhkan.
Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang? atau minimal dua ons cumicumi dan ikan ? Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli? Tempe seharga emas 24 karat
Tetesan air amis merembes di jalan becek ciprati kaki. Wajahnya tak kunjung henti memahat pengabdian. Anak laki lakinya tidur di gundukan semen Berbantalkan selendang tebal, kumal Yang sekarang kuning memudar
Perempuan penjual udang menyeka keringat Malam ini berharap malaikat singgah sebentar Sekadar melempar receh atau bingkisan Seperti mimpi Matanya nanar Sekejab keranjangnya kosong Laris manis tanjung kimpul Dagangan habis uang kumpul Begitu mantra saktinya
Seuntai senyum lepas ke udara Anakku akan minum susu juga akhirnya Malam ini aku akan pulang lebih awal Kubeli beberapa ekor ikan bawal Lalu dicocoli sambal
Eh, apa itu? Sekejap pasar yang gelap menjadi merah Riuh orang memaki dan mengumpat Tampak wajah beringas Mendengus Melotot Berteriak
' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami? udang ini hancur dan pahit rasanya! ' Juga cumi ini anyir dan berbusa!' ' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'
Umpatan - umpatan kutelan Oh Gusti pertanda apakah ini? Mereka mengarakku ke laut Aku terjungkal ke pasir
Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?
Laut tampak tenang. Tapi baunya begitu busuk Dari jauh sesuatu berpendar Terombang ambing lalu menepi
Tergopoh kami berebut Cermin! Tampak wajah kami yang menua Busuk menyengat Mata kami membusuk Tangan kami membusuk Mulut kami membusuk Payudara membusuk Laut membusuk Hati membusuk
Kulihat air laut membeku Hingga hati manusia hanyalah es Tak kuduga Langit bergetar Melihatku sujud di bawah guyuran hujan Hujan batu
Satu hal melintas di benakku Anakku! Yang sedang berjualan udang Cumi - cumi dan ikan Sementara kepalaku terkubur batu
Jendela bukalah lenganmu biarkan angin menari di sekujur tubuhku agar kamar yang sempit tak sinis lagi padaku .
Dedaunan merambat genit di dinding kamar menuruti perintah alam atas
keperkasaan matahari. Mereka perkosa jendelaku di antara sarang laba
laba pengutuk zaman
Jendelaku pun hampir terbenam
membenamkan mataku dan semua ingatan akan dunia yang penuh warna seperti biru penguasa samudra
Jendela, biar mataku menembus langit meminta sabda atas tubuhku yang terjerat akar akar entah dari mana.
Jendela apa kau yang membiarkan gagak itu masuk dan membisikkan kabar di telingaku. Bahwa ibu telah dipeluk awan.
Dan sanggupkah kau menahan lempengan doa yang kan kulemparkan kelangit
Siapkah kau tergores dan luka digerus kami yang tak pernah dipercaya langit
Jendela kau hanya tersenyum padaku,
mengingatkanku senyum ibu saat mengelus rambutku
dan berbisik
'bahwa langit kan selalu menungguku '
Mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini? Dan seperti hari hari melelahkanku di Cina Ini abad tujuh belas Kepala kepala menunduk menjilati tanah dan kakiku
Aku Kaisar Jubahku berat dan mahkotaku berrumpai rumpai Buah persik telah lama dihias ribuan dayang tak berselendang Embun pun telah disemai penuhi cangkir perakku
Mata itu yang bersembunyi dibalik tirai Bagai pisau dengan kilatan dan juga desahan begitu menggoda dahagaku dahagamu
Mari kita selesaikan hari ini Karena kehidupan yang lain tak kan pernah ada Putri Putri meregang nyawa Untuk menyelesaikan tariannya
Mata lain Di ujung tangga Menyapaku lembut Tapi dinginnya terasa
Lalu mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini?
Aku pikir diriku hujan Yang tiap tetesnya membasahi bumi, rambut perempuan pasar dan sarang burung parkit di pohon yang selalu beraroma pinus
Aku meluncur dengan sekantong mimpi Bahwa kelak anak anak senja ini akan meliliti malam dan mencakari punggungnya Aku juga bangunkan sri dengan recikrecikku yang membuat nafas terlelap lembut di kala malam
Sejuk Bahkan dingin kusapa tiap jengkal tanah kaisar yang tiap hari tergenang darah pekerja, penjaja gula dan peramu kata.
Kusisir rambutku dan kulihat lekang jalanan Ini kota mati Makanan dan mayat membusuk menjadi panggung tarian lalat lalat metropolis
Kaisar di istana Bersenandung Sendiri Istananya dihisap pasir Mulutnya penuh pasir
Di bukit tinggi menjulang sepi sendiri Pohon pinus. Menungguku Hujan Tak Kunjung datang
Tubuhku terbalut kebaya hitam berbunga bunga emas Cantik Bagai disiram berliter liter cahaya Payudaraku ranum Kebaya ini menekannya padat Sesak Panas Kebayaku terbakar! Terjilatilah setiap rajutan tangan perempuan desa Di pinggir sungai Gandari. Mereka menyulam kebayaku dari biji strawberi dan kenari putih
Di istana Raja tersenyum Memuji cermin Menyanjung senja dan bulir bulir hujan Beliau sangat cantik Memakai kebayaku
Malam semakin jarang datang tak ada lagi asap kretek di beranda kabar telah di hancurkan angin yang
jahat menusuki kulit aku pun seperti putri malam terbang di
antara kesedihan daun daun cemara yang sampai kapan pun tak tau kapan
matahari akan menyapa.
Keheningan menampar otakku yang angkuh
mendorong kejayaan ke dalam jurang Sampai aku disini
Memikirkan apa saja menu makan malam
nanti Pilihannya sayur asam atau
ikan asin Tak bisa sayur asam dan ikan asin