MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG





MOCH SATRIO WELANG MOCH SATRIO WELANG 081916384162  
   

<< October 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

MOCH SATRIO WELANG

Internet Sehat


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, July 29, 2009
BOCAH HILANG DI SUDUT DESA

Bocah samar berdiri
dirimbun pohon kemuning
bercelana hitam pudar,
perutnya kecil ( seperti lapar)

Bocah, berdiri memegang daun
seperti mimpi
menjadi hijau bagi ulat
menjadi ranum bagi umat

Bocah kecil, bertangan kecil 
menunggu tetesan hujan
selaksa langit malas menyapa
gerhana bulan ?
bukan,
sandi kala..

Bocah berdiri di rimbunnya
bocah menanti
peluk ibukah
atau bahu ayah
seperti air yang pecah
dari bejana di sudut desa

Bocah menanti
di sudut desa

Orang lalu lalang
lewati dirinya
dipeluknya waktu
Itik mendewasa
Daun bawang melayu
Dapur mengepul (terkadang)

Bocah kecil menangis,
Lirih ,
Terdengar burung padi
Yang lupa arah semedi

Bocah kecil dan burung padi
Berpelukan
Karena dunia
Sudah tak berbahu
dan tak berairmata

Posted at 12:50 am by satrio_welang
Make a comment  

Tuesday, February 24, 2009
Mana Insangmu, Nek?

Tak pernah kulihat
Halilintar begitu gagah  
Sambar genteng rumah
Langit marah
Air mengguyur
Rambut basah Nenek  
Yang terhuyung
Memeluk kendi kosong beras
Tergopoh menuju Cikeas

Terlalu kuat mata melangkah
Air ponari pun tumpah
Pertama setetes
Lalu meninggi
Dan mendaki
Sungguh ngeri

Air sudah selutut
Sebentar lagi menyentuh dada
Lalu bagaimana kami bernafas
Kami bukan duyung
Atau kerapu

Nenek tak punya insang
Dan sirip
Karena Nenek bukan ikan

Ayo Nek, peras kebayamu
Nanti masuk angin
Semua rumah sudah tutup
Pintukan terbuka
Kalau Nenek berharta

Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie
Melainkan Poniyem
Tiap hari makan bayem
Karena Nenek bukan ikan
Tak punya insang
Tak punya Bakrie
Cuma genangan ponari
Yang sudah capai leher
Berhari hari

Oh Tuhan!
Tolong lemparkan pelampung!
Sungguh Nenek tak punya insang
Yang ada hanya dompet tua
Dua ribu lusuh
Potret kakek yang menguning
Dan jimat agar Nenek selamat

Kau lihat yang mengapung itu?
Ya, Nenekku

Posted at 02:39 am by satrio_welang
Comment (1)  

Sunday, January 25, 2009
Pohon di Hutan Kintamani, Tuhan dan Gaza

Di dalam Avanza
 di antara pohon - pohon raksasa
di hutan Kintamani
aku bertanya pada temanku
 seraya memandang pohon - pohon besar
yang menjulang tinggi
" Siapa ya yang menyirami mereka ini?"
"Tuhanlah" jawab temanku
"Ow bukankah Tuhan sedang sibuk di Gaza" balasku

Lalu kuambil Motorolaku dan mulai mengetik

" Dan datang sepuluh karung lagi jari jari bayi
Kali ini datang dari negeri tandus
di tengah negeri buatan bangsa Gurita
yang melukai hati umat manusia

Yahudi pun menangis
sementara Israel tertawa-tawa
Palestina, dengan batu batu
kau gigiti nafas hidupmu
kau potong tangan kananmu
sebagai menu makan malam
anak anakmu yang meringis
memegangi perut
memimpikan roti maryam
dan gulai kambing

Tumpukan saja semua batu menjulang
dari sungai nil sampai eufrat
biar sibuk mereka mengali gali
ribuan tahun saat Musa dan Bani Israilnya
hidup rukun saling mengasihi
sampai Fir'aun dan Hitler
bermain petasan
Untung kau bukan bayi laki laki
yang hidup di zaman itu

TV berkedip kedip
Pidato Obama
copy paste Tuan Bush
Tetap saja Hamas melansir berita gembira
1500 nyawa ditebus 3000 lahirnya bayi baru
Nyawa kok dikalkulatorin

Aku tatap nanar
Oprah Show
yang konon aktifis kemanusiaan
Gaza berteriak panas
malah ngambil tema
memelihara kecantikan

Hingga Madonna
mencuat lagi dalam super sensasi
jadi target militant untuk dikuliti

Kami kenyang melihat darah
rudal rudal di televisi
yang dilansir Aljazera Arabic

Kenyang melihat
wajah bayi dan otak otak yang berserakan
darah yang menggelinang
mencuat keluar dari layar televisi kami

Kami kenyang
karena kami makan!
makan banyak lengkap
dengan coca cola
yang sudah dilarang
di Malaysia

Bayangkan
berada di bawah langit
saat pospor putih panas
meletus di udara
kulitmu melepuh
dagingmu gosong sempurna
hingga terlihat tulang keringmu
paru parumu pasti sesak
gas beracun
dan detik berikutnya
muncul sayap dipunggungmu
lalu ringan terbang ke awan
takkan ikut intifadah lagi sore nanti
 
PBB tinggal bubar saja
Waw, Bang One siaran di Arab rupanya!
Bagus Bang,
biar berhenti Mesir, Saudi, Qatar panjat pinang
hadiahnya mainan buatan Amerika
Jelas Venezuela gag ikut
Sedang sibuk mengusir dubes dari negeri
yang diberi julukan mayat busuk oleh Ahmadinejad

Jadi pengen ikut waktu Zionis bikin rapat
menunya pasti satu
istana daud
ya itu tadi di sepanjang
Nil dan Eufrat

untung tidak di Kintamani
yang pohonnya menjulang tinggi

Kintamani dingin
Gaza panas

Kami makan
Gaza mimpi makan

Kami matikan TV
lalu main domino lagi

" Shit, Hpku lowbat! "
(black out)

Posted at 10:41 am by satrio_welang
Comments (2)  

Senja itu tiba

Saat senja, kututup buku di pangkuanku
wajahku menua, ringkih dan kuyu
kuberselimut tebal duduk dikursi kayu
memandang jendela
begitu jingga
langit jingga
dan burung burung
kuteringat teman temanku
40 tahun yang lalu
aku rindu...

Posted at 10:05 am by satrio_welang
Make a comment  

Friday, November 28, 2008
Dewa Laut Tertidur Saat Pasar Sedang Ramai

Perempuan penjual udang, menetes keringatnya di keranjang - keranjang
Harapan dan cinta menjadi benda yang dipertaruhkan.

Tahukah kau berapa sekilo udang sekarang?
atau minimal dua ons cumicumi dan ikan ?
Pasar memang ramai. Tapi siapa pembeli?
Tempe seharga emas 24 karat

Tetesan air amis merembes di jalan becek ciprati kaki.
Wajahnya tak kunjung henti memahat pengabdian.
Anak laki lakinya tidur di gundukan semen
Berbantalkan selendang tebal, kumal
Yang sekarang kuning memudar

Perempuan penjual udang menyeka keringat
Malam ini berharap malaikat singgah sebentar
Sekadar melempar receh atau bingkisan
Seperti mimpi
Matanya nanar
Sekejab keranjangnya kosong
Laris manis tanjung kimpul
Dagangan habis uang kumpul
Begitu mantra saktinya

Seuntai senyum lepas ke udara
Anakku akan minum susu juga akhirnya
Malam ini aku akan pulang lebih awal
Kubeli beberapa ekor ikan bawal
Lalu dicocoli sambal

Eh, apa itu?
Sekejap pasar yang gelap menjadi merah
Riuh orang memaki dan mengumpat
Tampak wajah beringas
Mendengus
Melotot
Berteriak

' Hai perempuan tua, apa yang kau jual pada kami?
udang ini hancur dan pahit rasanya!
' Juga cumi ini anyir dan berbusa!'
' Apalagi ikan ini , busuk! coba kau makan!'

Umpatan - umpatan kutelan
Oh Gusti pertanda apakah ini?
Mereka mengarakku ke laut
Aku terjungkal ke pasir

Oh Gusti kenapa laut begitu sinis kepadaku?

Laut tampak tenang. Tapi baunya begitu busuk
Dari jauh sesuatu berpendar
Terombang ambing lalu menepi

Tergopoh kami berebut
Cermin!
Tampak wajah kami yang menua
Busuk menyengat
Mata kami membusuk
Tangan kami membusuk
Mulut kami membusuk
Payudara membusuk
Laut membusuk
Hati membusuk

Kulihat air laut membeku
Hingga hati manusia hanyalah es
Tak kuduga
Langit bergetar
Melihatku sujud di bawah guyuran hujan
Hujan batu

Satu hal melintas di benakku
Anakku!
Yang sedang berjualan udang
Cumi - cumi dan ikan
Sementara kepalaku terkubur batu

Posted at 10:11 pm by satrio_welang
Comment (1)  

Wednesday, November 26, 2008
Jendela , Jangan Kau Tampakkan Langit itu Padaku

Jendela bukalah lenganmu biarkan angin menari di sekujur tubuhku agar kamar yang sempit tak sinis lagi padaku .

Dedaunan merambat genit di dinding kamar menuruti perintah alam atas keperkasaan matahari. Mereka perkosa jendelaku di antara sarang laba laba pengutuk zaman

Jendelaku pun hampir terbenam
membenamkan mataku dan semua ingatan akan dunia yang penuh warna seperti biru penguasa samudra

Jendela, biar mataku menembus langit meminta sabda atas tubuhku yang terjerat akar akar entah dari mana.

Jendela apa kau yang membiarkan gagak itu masuk dan membisikkan kabar di telingaku. Bahwa ibu telah dipeluk awan.

Dan sanggupkah kau menahan lempengan doa yang kan kulemparkan kelangit

Siapkah kau tergores dan luka digerus kami yang tak pernah dipercaya langit

Jendela kau hanya tersenyum padaku,
mengingatkanku senyum ibu saat mengelus rambutku
dan berbisik
'bahwa langit kan selalu menungguku '

Langit kan menungguku
Langit kan menunggu doa doa

Posted at 06:35 am by satrio_welang
Comment (1)  

Sunday, November 09, 2008
Mata yang Bersembunyi di Balik Tirai

Mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini?
Dan seperti hari hari melelahkanku di Cina
Ini abad tujuh belas
Kepala kepala menunduk menjilati tanah dan kakiku

Aku Kaisar
Jubahku berat dan mahkotaku berrumpai rumpai
Buah persik telah lama dihias ribuan dayang tak berselendang
Embun pun telah disemai penuhi cangkir perakku

Mata itu yang bersembunyi dibalik tirai
Bagai pisau dengan kilatan
dan juga desahan
begitu menggoda
dahagaku
dahagamu

Mari kita selesaikan hari ini
Karena kehidupan yang lain tak kan pernah ada
Putri Putri meregang nyawa
Untuk menyelesaikan tariannya

Mata lain
Di ujung tangga
Menyapaku lembut
Tapi dinginnya terasa

Lalu
mengapa begitu banyak ulat pada makananku siang ini?

Posted at 10:15 am by satrio_welang
Make a comment  

Hujan Bukan Air yang Jatuh dari Langit

Aku pikir diriku hujan
Yang tiap tetesnya membasahi bumi, rambut perempuan pasar dan sarang burung parkit di pohon yang selalu beraroma pinus

Aku meluncur dengan sekantong mimpi
Bahwa kelak anak anak senja ini akan meliliti malam dan mencakari punggungnya
Aku juga bangunkan sri dengan recikrecikku yang membuat nafas terlelap lembut di kala malam

Sejuk
Bahkan dingin kusapa tiap jengkal tanah kaisar yang tiap hari tergenang darah pekerja, penjaja gula dan peramu kata.

Kusisir rambutku dan kulihat lekang jalanan
Ini kota mati
Makanan dan mayat membusuk menjadi panggung tarian lalat lalat metropolis

Kaisar di istana
Bersenandung
Sendiri
Istananya dihisap pasir
Mulutnya penuh pasir

Di bukit tinggi menjulang sepi sendiri
Pohon pinus.
Menungguku
Hujan
Tak Kunjung datang




Posted at 10:00 am by satrio_welang
Make a comment  

Saturday, October 25, 2008
Kebaya yang Dipenuhi Mimpi Buruk

Tubuhku terbalut kebaya hitam berbunga bunga emas
Cantik
Bagai disiram berliter liter cahaya
Payudaraku ranum
Kebaya ini menekannya padat
Sesak
Panas
Kebayaku terbakar!
Terjilatilah setiap rajutan tangan perempuan desa
Di pinggir sungai Gandari.
Mereka menyulam kebayaku
dari biji strawberi dan kenari putih

Di istana Raja tersenyum
Memuji cermin
Menyanjung senja dan bulir bulir hujan
Beliau sangat cantik
Memakai kebayaku 

 

Posted at 06:56 am by satrio_welang
Make a comment  

Wednesday, October 22, 2008
Tambah saja Sayurnya atau Ikan Asin?

Malam semakin jarang datang
tak ada lagi asap kretek di beranda
kabar telah di hancurkan angin yang jahat menusuki kulit
aku pun seperti putri malam terbang di antara kesedihan daun daun cemara
yang sampai kapan pun tak tau kapan matahari akan menyapa.

Keheningan menampar otakku yang angkuh mendorong kejayaan ke dalam jurang Sampai aku disini

Memikirkan apa saja menu makan malam nanti
Pilihannya sayur asam atau ikan asin
Tak bisa sayur asam dan ikan asin

Malam jatuh
Yang kudapati hanya sambal


Posted at 10:26 pm by satrio_welang
Make a comment  

Next Page