Entry: Mana Insangmu, Nek? Tuesday, February 24, 2009



Tak pernah kulihat
Halilintar begitu gagah  
Sambar genteng rumah
Langit marah
Air mengguyur
Rambut basah Nenek  
Yang terhuyung
Memeluk kendi kosong beras
Tergopoh menuju Cikeas

Terlalu kuat mata melangkah
Air ponari pun tumpah
Pertama setetes
Lalu meninggi
Dan mendaki
Sungguh ngeri

Air sudah selutut
Sebentar lagi menyentuh dada
Lalu bagaimana kami bernafas
Kami bukan duyung
Atau kerapu

Nenek tak punya insang
Dan sirip
Karena Nenek bukan ikan

Ayo Nek, peras kebayamu
Nanti masuk angin
Semua rumah sudah tutup
Pintukan terbuka
Kalau Nenek berharta

Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie
Melainkan Poniyem
Tiap hari makan bayem
Karena Nenek bukan ikan
Tak punya insang
Tak punya Bakrie
Cuma genangan ponari
Yang sudah capai leher
Berhari hari

Oh Tuhan!
Tolong lemparkan pelampung!
Sungguh Nenek tak punya insang
Yang ada hanya dompet tua
Dua ribu lusuh
Potret kakek yang menguning
Dan jimat agar Nenek selamat

Kau lihat yang mengapung itu?
Ya, Nenekku

   1 comments

theeya
April 19, 2009   09:08 PM PDT
 
mas moch, kamu hebat deh, eh mas ada salam dari TUTI yg waktu itu kamu order....ktanya permainanmu hebatttt hihihi

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments