|
Halilintar begitu gagah Sambar genteng rumah Langit marah Air mengguyur Rambut basah Nenek Yang terhuyung Memeluk kendi kosong beras Tergopoh menuju Cikeas Terlalu kuat mata melangkah Air ponari pun tumpah Pertama setetes Lalu meninggi Dan mendaki Sungguh ngeri Air sudah selutut Sebentar lagi menyentuh dada Lalu bagaimana kami bernafas Kami bukan duyung Atau kerapu Nenek tak punya insang Dan sirip Karena Nenek bukan ikan Ayo Nek, peras kebayamu Nanti masuk angin Semua rumah sudah tutup Pintukan terbuka Kalau Nenek berharta Sayang Nenek tak bernama belakang Bakrie Melainkan Poniyem Tiap hari makan bayem Karena Nenek bukan ikan Tak punya insang Tak punya Bakrie Cuma genangan ponari Yang sudah capai leher Berhari hari Oh Tuhan! Tolong lemparkan pelampung! Sungguh Nenek tak punya insang Yang ada hanya dompet tua Dua ribu lusuh Potret kakek yang menguning Dan jimat agar Nenek selamat Kau lihat yang mengapung itu? Ya, Nenekku |
| theeya April 19, 2009 09:08 PM PDT mas moch, kamu hebat deh, eh mas ada salam dari TUTI yg waktu itu kamu order....ktanya permainanmu hebatttt hihihi | ||
| Leave a Comment: |